Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Khazanah Islam

Bacaan Doa Setelah Adzan Bahasa Arab & Latin serta Artinya, Juga Pengertian dan Keutamaan Adzan

Adzan memberitahukan telah masuknya waktu sholat agar manusia-manusia yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, istirahat sejenak memenuhi seruan Allah.

Editor: Sakinah Sudin
eramusmil.com
Ilustrasi. Berikut bacaan doa setelah adzan bahasa Arab dan Latin serta artinya. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Berikut ini bacaan doa sesudah adzan Bahasa Arab dan latin serta artinya. Lengkap pengertian dan keutamaan adzan.

Adzan merupakan tanda masuknya waktu sholat wajib 5 waktu.

Adzan ini memberitahukan telah masuknya waktu sholat agar manusia-manusia yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, istirahat sejenak memenuhi seruan Allah ‘azza wajalla.

Demikian pula, yang tengah terlelap tidur menjadi terbangun lantas berwudhu dan mengenakan pakaian terbaiknya untuk menunaikan shalat berjama’ah.

Adzan dilantunkan sebagai panggilan untuk umat muslim mengerjakan sholat. Dalam sehari adzan dilantunkan sebanyak 5 kali.

Untuk sholat Isya, Subuh, Zuhur, Ashar, dan Maghrib

Orang yang melantunkan adzan disebut muadzin

Setelah muadzin selesai adzan disunahkan untuk membaca doa.

Berikut bacaan doa setelah adzan bahasa Arab dan Latin, juga pengertian dan keutamaan adzan, dilansir dari artikel Tribunsumsel.com dengan judul "Bacaan Doa Setelah Adzan Bahasa Arab dan Latin, Lengkap dengan Bacaan Menjawab Adzan"

Doa Setelah Adzan 

Berikut Doa Setelah Adzan (Bahasa Arab)

Bacaan Doa Setelah Adzan Bahasa Arab
Bacaan Doa Setelah Adzan Bahasa Arab (Tribun Sumsel)

Doa Setelah Adzan Bahasa Latin dan Terjemahan

Bacaan Doa Setelah Adzan Bahasa Arab dan Latin dan Artinya.
Bacaan Doa Setelah Adzan Bahasa Arab dan Latin dan Artinya. (Tribun Sumsel)

Jawaban Adzan

Muadzin : Allaahuakbar Allaahuakbar

Jawaban : Allaahuakbar Allaahuakbar

Muadzin : Asyhaaduanlaailaahaillallaah

Jawaban : Asyhaaduanlaailaahaillallaah

Muadzin : Asyhaduanna muhammadan rosuulullaah

Jawaban : Asyhaduanna muhammadan rosuulullaah

Muadzin : Hayya’alassolaah

Jawaban : Laa hau laa walaa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘adziim.

Muadzin : Hayya’alalfalaah

Jawaban :  Laa hau laa walaa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘adziim.

Muadzin :  Allahuakbar Allahuakbar

 Jawaban : Allahuakbar Allahuakbar

Muadzin : Lailahaillallah

Jawaban :  Lailahaillallah

Pengertian Adzan

Adzan secara bahasa bermakna al i’lam yang berarti pengumuman atau pemberitahuan, sebagaimana firman Allah ‘azza wajalla

وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الأكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُه

“Dan pengumuman dari Allah dan Rasul-Nya kepada ummat manusia di hari haji akbar bahwa Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari kaum musyrikin…..” (QS. At Taubah : 3)

Adapun secara syar’i adzan adalah pemberitahuan masuknya waktu shalat dengan ,lafazh-lafazh yang khusus. (Al Mughni, 2: 53, Kitabush Shalat, Bab Adzan. Dinukil dari Taisirul Allam , 78).

Ibnul Mulaqqin rahimahullah berkata, “Para ulama’ menyebutkan 4 hikmah adzan : (1) menampakkan syi’ar Islam, (2) menegakkan kalimat tauhid, (3) pemberitahuan masuknya waktu shalat, (4) seruan untuk melakukan shalat berjama’ah.” (Taudhihul Ahkam, 1: 513)

Keutamaan Adzan

Salah satu tanda sempurnanya syari’at Islam ini adalah memberi dorongan kepada ummatnya untuk melaksanakan ibadah dengan menyebutkan keutamaan ibadah tersebut. Begitu pula adzan, banyak riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan tentang keutamaan adzan dan orang yang menyerukan adzan (muadzin).

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ، حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِيْنَ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثَوَّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَر

”Apabila diserukan adzan untuk shalat, syaitan pergi berlalu dalam keadaan ia kentut hingga tidak mendengar adzan. Bila muadzin selesai mengumandangkan adzan, ia datang hingga ketika diserukan iqamat ia berlalu lagi …” (HR. Bukhari no. 608 dan Muslim no. 1267)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu juga, ia mengabarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوْا

”Seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala yang didapatkan dalam  adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak dapat memperolehnya kecuali dengan undian niscaya mereka rela berundi untuk mendapatkannya…” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 980)

Muawiyah radhiallahu ‘anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمؤَذِّنُوْنَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Para muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 850)

Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu mengabarkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Tidaklah jin dan manusia serta tidak ada sesuatu pun yang mendengar suara lantunan adzan dari seorang muadzin melainkan akan menjadi saksi kebaikan bagi si muadzin pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 609)

Ibnu ’Umar radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُغْفَرُ لِلْمْؤَذِّنِ مُنْتَهَى أََذَانِهِ وَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ سَمِعَهُ

”Diampuni bagi muadzin pada akhir adzannya. Dan setiap yang basah atau pun yang kering yang mendengar adzannya akan memintakan ampun untuknya.” (HR. Ahmad 2: 136. Syaikh Ahmad Syakir berkata bahwa sanad hadits ini shahih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan para imam dan muadzin,

اللَّهُمَّ أَرْشِدِ الْأَئِمّةَ وَاغْفِرْ لِلَمْؤَذِّنِيْنَ

”Ya Allah berikan kelurusan bagi para imam dan ampunilah para muadzin.” (HR. Abu Dawud no. 517 dan At-Tirmidzi no. 207, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 217)

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ، فَأَرْشَدَ اللهُ الْأَئِمّةَ وَعَفَا عَنِ المْؤَذِّنِيْنَ

“Imam adalah penjamin sedangkan muadzin adalah orang yang diamanahi. Semoga Allah memberikan kelurusan kepada para imam dan memaafkan paramuadzin.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no.1669, dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 239) (lihat Shahih Fiqih Sunnah, Bab Adzan)

Demikianlah keutamaan-keutamaan yang terdapat pada adzan dan muadzin. Semoga kita termasuk dari golongan orang-orang yang ketika mendengar sebuah hadits, segera mengamalkannya. Wallahu a’lam.

Artikel ini telah tayang disini. Klik https://muslim.or.id/7371-keutamaan-adzan.html

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved