Breaking News:

Instruktur Mekanik: Puluhan Juta Bisa Keluar Akibat Salah Pilih BBM

Diakhir, Arief menghimbau pengguna kendaraan untuk mempertimbangkan bijak-bijak untuk mimilih dan menggunakan bahan bakar kendaraan.

Penulis: Ari Maryadi | Editor: Ina Maharani
TRIBUN-TIMUR.COM/ARI MARYADI
Senior Supervisor Communlnication and Relation PT Pertamina Regional Sulawesi Taufiq Kurniawan memberi tips membeli bahan bakar yang sesuai dengan kendaraan dalam Live Obrol Otomotif Tribun Timur Spesial Seri #13 membahas Tips dan Trik Menjaga Keawetan Mesin Bagi Orang Awam, Senin (5/7/2021). 

MAKASSAR -- Penggunaan bahan bakar dengan oktan rendah yang tidak sesuai jenis kendaraan rupanya bisa berakibat fatal terutama kerusakan pada mesin.

Hal itu diceritakan Muh Arief Munafri Instruktur Mekanik Bengkel Honda Sanggar Laut Group dalam Live Obrol Otomotif Tribun Timur Spesial Seri #13 membahas Tips dan Trik Menjaga Keawetan Mesin Bagi Orang Awam, Senin (5/7/2021).

Arief mengatakan penggunaan dan pemilihan bahan bakar perlu pertimbangan. Banyak keluhan pelanggan ia dapatkan dengan mobil bermasalah di awal tahun pemakaian.

Ternyata pelanggan itu punya kesalahan memakai bahan bakar premium yang tidak sesuai dengan spesifikasi kendaraan.

“Pelanggan awam paham mengisi bahan bakar, tapi tidak paham apa yang buat mobil bisa jalan dengan performa maksimal dan bikin awet mesin kendaraan,” kata Arief.

Arief mengatakan pertimbangan memilih bahan bakar itu krusial sebetulnya. “Misal kita pilih premium. Saat ini kita hemat, hemat diawal tapi boros di akhir. Lebih baik kita sedikit menambah rupiahnya tapi kualitas kita dapat jangka panjang,” terangnya.

Ia mengungkapkan seringkali kerusakan pada mesin akibat penggunaan BBM oktan rendah dapat dilihat pada kotoran yang ada pada piston dan silinder yang warnanya hitam pekat.

“Kondisi piston menjadi hitam pekat seharusnya terjadi kalau kendaraan sudah lebih dari 10 tahun dengan catatan bahan bakarnya yang dipakai tepat,” kata Arief.

Arief menyampaikan kerusakan pada mesin akibat salah menggunakan bahan bakar dapat dilihat dari piston dan silinder headnya. “Kalau pake pertamax, kasarnya kaya debu-debu yang mudah dibersihkan, kotor tapi tidak sehitam itu (pistonnya),” kata Arief.

Ia menambahkan kalau hasil pembakarannya hitam itu menunjukkan penggunaan bahan bakar yang boros. “Kalau piston sudah hitam sekali berarti oktannya tidak sesuai karena meledak duluan, dia terbakar duluan jadinya menimbulkan kerak-kerak hitam,” tambahnya.

Arief mengungkapkan apabila sampai terjadi turun mesin, dia menaksir harga yang berlaku di Honda untuk perbaikan sekitar Rp269.000 per jam, itu standard Honda dimanapun tinggal dikalikan berapa lama perbaikan yang diperlukan

“Waktu yang dibutuhkan untuk turun mesin adalah 24 jam. Ini adalah waktu tercepat nasional yang disusun oleh Honda Motor di Jepang dan Honda Prospect Motor sebagai ATPM kita. Itu baru ongkos untuk bongkar mesinnya aja dan pasangnya,” kata Arief.

Arief mengatakan untuk sparepart sendiri apabila tidak parah bisa merogoh kocek sampai 15 juta. Kalau kondisinya parah, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai 30 juta ditambah ongkos kerjanya tadi sekitar 6 jutaan keatas.

Diakhir, Arief menghimbau pengguna kendaraan untuk mempertimbangkan bijak-bijak untuk mimilih dan menggunakan bahan bakar kendaraan.

“Kalau kita menggunakan bahan bakar yang bersih berarti kita menentukan jangka panjang keawetan mesin kendaraan kita. Tapi kalau kita menggunakan BBM oktan rendah, berarti kita sudah harus siap dengan biaya-biaya yang besar dikemudian hari,” pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved