Breaking News:

Tribun Sulsel

Legislator PAN Irfan AB Minta Pemprov Sulsel Tekankan Kejujuran dalam Penanganan Covid-19

Legislator PAN Irfan AB Minta Pemprov Sulsel Tekankan Kejujuran dalam Penanganan Covid-19

Penulis: Ari Maryadi | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM/ARI MARYADI
Legislator DPRD Sulsel Fraksi Partai Amanat Nasional Andi Muhammad Irfan AB. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Anggota Komisi E DPRD Sulsel, Andi Muhammad Irfan AB menekankan penerapan kejujuran kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam penanganan pandemi Covid-19.

Hal itu disampaikan Irfan AB menanggapi wacana data kasus Covid-19 Sulsel disunat.

"Ada wacana berkembangan data Covid-19 direkayasa yang disampaikan Prof Idrus. Kalau itu betul sungguh sangat mengecewakan," kata Irfan AB dalam rapat kerja di Gedung Twin Tower DPRD Sulsel Jl Urip Sumohardjo Kota Makasssar, Rabu (7/7/2021).

Ia pun menyerukan penerapan sikap jujur kepada Pemprov Sulsel dalam penanganan pandemi Covid-19.

"Kita butuh kejujuran, apapun berkembang kita butuh kejujuran, kalau kita sudah rekayasa data-data, kita tidak bisa keluar dari pandemi Covid-19 ini," katanya.

Irfan AB mengatakan perjalanan pandemi Covid-19 selama setahun lebih ini memunculkan pemahanan di publik bahwa Covid-19 tidak mudah sirna.

"Covid-19 selama dua tahun, menurut saya pribadi, kita sudah dapat keyakinan Covid-19 virus yang tidak akan sirna. Pengalaman kita hampir dua tahun, harusnya beri kita strategi yang sudah lebih canggih hadapi virus ini," jelasnya.

Ia mencontohkan Singapura sudah menyatakan virus Covid-19 flu biasa. Hal itu dinilai wajar bicara karena hampir seluruh penduduk Singapura sudah vaksin.

Irfan AB mengatakan, pemahaman bahwa Covid-19 seperti flu biasa harus bisa dibangun. 

Ia mencontohkan pengalaman baru-baru seorang saudara Irfan AB dinyatakan positif Covid-19.

Ketika ia melakukan swab, ia dinyatakan negatif.

Ia juga mengatakan pentingnya kesiapan jika Sulsel menghadapi ledakan Covid-19.

"Kita harus siap, tidak apa-apa Covid-19 asal penanganan berhasil. Bagaimana RS kurangi angka kematian tentu dengan penanganan tepat," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, pendataan kasus covid-19 di Sulsel seringkali timpang, data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat berbeda dengan data hasil pemeriksaan laboratorium.

Pakar Kesehatan, Universitas Hasanuddin, Idrus Paturusi membongkar bobroknya pendataan tersebut.

Ia menduga ada pengecilan angka yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

"Sepertinya begitu (pengecilan angka) makanya saya minta untuk ada penjelasan perihal perbedaan itu," kata Idrus Paturusi saat dihubungi tribun-timur com, Selasa (6/7/2021) malam.

Idrus Paturusi mengaku melakukan investigasi selama dua pekan. Mulai 23 Juni hingga 5 Juli 2021. 

Data tersebut diambil dari 24 laboratorium yang melakukan uji swab di Sulsel. Dibandingkan dengan data yang diumumkan pemerintah pusat, BNPB.

Misalnya, pada 24 Juni, kasus terkonfirmasi positif sesuai data laboratorium sebanyak 212 orang, sementara yang terlapor di pusat hanya 100 kasus.

Selanjutnya, pada 25 Juni ada 312 positif, yang terlapor dan diumumkan BNPB hanya 151 kasus.

Lanjut, 26 Juni seharusnya ada 222 yang terkonfirmasi tapi hanya 126 kasus yang terlaporkan.

Pada 1 Juli 2021 lalu data lab sebanyak 398 positif, sementara data yang dikeluarkan pemerintah pusat hanya 253 kasus.

Kemudian, 2 Juli ada seharunya 527 kasus tapi hanya 327 yang diumumkan.

3 Juli 495 kasus, tapi yang diumumkan hanya 327 kasus.

Terakhir 219 kasus yang diumumkan, sementara ada 548 yang didata oleh laboratorium.

Kejadian sebaliknya juga sempat terjadi, dimana data laboratorium lebih rendah dari data yang diumumkan pemerintah pusat.

Misalnya, pada 4 Juli, 94 kasus yang diumumkan pemerintah pusat, namun data lab sebanyak 26 kasus.

Idrus menyampaikan, berdasarkan penjelasan dari Dinas Kesehatan Sulsel di salah satu stasiun televisi, adanya perbedaan data disebabkan, kasus yang dilaporkan pusat adalah kasus Sulsel sehari sebelumnya.

"Biasanya laporan nasional tertanggal hari ini diambil dari data lab satu hari sebelumnya," kata Idrus sesuai pernyataan Dinas Kesehatan yang didengar lewat stasiun televisi swasta di Sulsel.

Hanya saja, kata guru besar Universitas Hasanuddin ini, meski berbeda sehari, tapi tidak ad sinkronisasi data jika disandingkan dengan kasus yang diumumkan pusat hari ini dengan rekap data lab sehari sebelumnya.

"Itu kan ada memang statement menteri, mengatakan bahwa banyak daerah yang menyembunyikan data sebenarnya, karena tidak mau daerahnya dikatakan tidak mampu menanggulangi covid," tegasnya.(*)

Laporan Kontributor TribunMakassar.com @bungari95

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved