Pilgub Sulsel 2024

Kecewa Hasil Musda, Iskandar Lathief: Tidak Mutlak Ketua Partai Maju Pilgub Sulsel

Hasil Musyawarah Daerah X Partai Golkar Kabupaten Sinjai masih menimbulkan protes sejumlah kader.

Penulis: Ari Maryadi | Editor: Suryana Anas
Dokumen pribadi Iskandar Lathief
Mantan Plt Ketua Golkar Sinjai Iskandar Lathief. (Dokumen pribadi Iskandar Lathief) 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Hasil Musyawarah Daerah X Partai Golkar Kabupaten Sinjai masih menimbulkan protes sejumlah kader.

Mantan Plt Ketua Golkar Sinjai Iskandar Lathief, mengatakan tidak ada keharusan mengusung ketua partai maju Pilgub Sulsel jika ada kader yang lebih kuat elekroral dan prestasinya.

"Tidak harus dan tidak mutlak ketua yang diusung, apatah lagi jika ada kader lain yang lebih smart ditambah lebih good looking dan lebih tinggi surveynya dibanding ketua partai yang sedang menjabat," kata Icul, sapaan, kepada Tribun Timur, Jumat (2/7/2021).

Icul menjadikan pengalaman Akbar Tanjung dan Farouk M Betta sebagai contoh argumentasinya.

Menurutnya, Akbar Tanjung tidak maju sebagai calon presiden 1999 dan 2004 walaupun dia menjabat Ketua Umum Partai Golkar.

"Di Makassar Farouk juga tidak diusung sebagai calon walikota, di Maros, di Gowa, di Bantaeng dan saya di Sinjai juga tidak harus diusung sebagai calon bupati tapi berhasil memenangkan pasangan Seto-Kartini," kata Icul.

Icul lebih mendorong nama Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan maju calon Gubernur Sulsel dibanding nama Wali Kota Parepare Taufan Pawe.

Icul menilai, sebagai kader Golkar, Adnan punya leadership jauh lebih baik dibanding Taufan Pawe.

Kedua, katanya, Adnan sudah teruji berhasil memimpin daerah besar dengan jumlah penduduk lebih banyak daripada Kota Parepare yang dipimpin Taufan Pawe.

"Ketiga Pak Adnan memang Wija Mapparenta, kakeknya, Omnya, bapaknya jadi modal sosial dan modal mappadecengnya sudah lebih meyakinkan," katanya.

Keempat, Icul menilai, warga Sulsel butuh Gubernur yang muda karena spirit zamannya memang sudah waktunya anak-anak muda memimpin yang lebih fresh, untuk diberi kesempatan.

"Kita-kita yang sudah putih rambutnya, sebaiknya tinggal Tut Wuri Handayani. Anak mudal lebih sporty dan stylenya tidak kaku," ujarnya.

Kelima, Icul menilai, keuntungan lain jika anak muda, jika dia berhasil di level provinsi masih punya waktu yang cukup untuk ke level nasional.

Menurutnya, Sulsel harus siapkan generasi selanjutnya pasca JK di level nasional.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved