Breaking News:

Video Viral

VIDEO Presiden Jokowi Telepon Kapolri Laporkan Aksi Premanisme di Tanjung Priok, Listyo: Siap Pak!

VIDEO Presiden Jokowi Telepon Kapolri Laporkan Aksi Premanisme di Tanjung Priok, Jenderal Listyo Sigit: Siap Pak Presiden!

Editor: Ilham Arsyam
Biro Pers/Setpres - Muchlis Jr
Presiden Joko Widodo langsung menelpon Kapolri saat menerima laporan dari para supir kontainer banyaknya pungli dan pemalakan preman saat beraktivitas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (10/6/2021) 

Cuma satu tolong bubarkan Depo Fortune, NPCT 1, sama Depo Dwipa," demikian rintihan sopir dalam video tersebut.

Sopir tersebut juga merasa kemacetan parah di Tanjung Priok telah berdampak pada pendapatan dan nafkah yang ia berikan ke keluarga.

Demikian juga dengan pungli yang kerap dilakukan oleh sejumlah depo kontainer.

"Tolong pak, saya mohon tolong dengan sangat hormat saya ke pak Presiden, sakit pak dimarahin istri terus, pulang gak pernah bawa duit. Jalannya macet mulu, sama itu bertiga (depo), enggak G Fortune ya Dwipa, ya NPCT 1 pak. Sakit pak, setoran banyak, order banyak tapi gak muter, karena mandek jalannya Pak. Saya mohon Pak tolong dengarkan keluhan driver Tanjung Priok pak," ujar sopir dalam narasi video.

Presiden sengaja menyempatkan diri bertemu para sopir kontainer, untuk mendengar langsung keluhan yang mereka alami, terutama soal pungutan liar (pungli).

Presiden berpandangan seharusnya para sopir kontainer merasa nyaman saat bekerja, terutama di tengah situasi sulit akibat pandemi Covid-19.

"Driver mestinya merasa nyaman semuanya."

"Jangan sampai ada yang mengeluh karena banyaknya pungutan."

"Itu yang mau saya kejar, kalau ada, silakan," ucapnya.

Agung Kurniawan, seorang sopir kontainer, lantas mengacungkan tangan dan menyampaikan keluh kesahnya selama menjadi sopir kontainer.

Pria kelahiran Ngawi, 38 tahun silam ini menjelaskan, para sopir kontainer kerap menjadi sasaran tindak premanisme.

"Begitu keadaan macet, itu di depannya ada yang dinaiki mobilnya."

"Naik ke atas mobil bawa celurit atau nodong begitu, itu enggak ada yang berani menolong, Pak."

"Padahal itu depan, belakang, samping, kanan itu kan kendaraan semua, dan itu orang semua, dan itu sangat memprihatinkan."

"Karena dia takut, kalau posisinya nanti dia membantu, preman-preman itu akan menyerang balik ke dirinya."

"Maka dia lebih memilih tutup kaca, dan itu memprihatinkan sekali begitu, Pak," ungkap Agung.

Hal ini diamini oleh rekannya sesama sopir kontainer, Abdul Hakim, yang menyebut kemacetan merupakan penyebab para preman bisa leluasa menjalankan aksinya.

"Kalau mungkin lancar, ini mungkin tidak ada, Pak."

"Jadi ini kendala kita ini kemacetan aslinya, Pak."

"Jadi kami mohon kepada Bapak Presiden, bagaimana solusi ini ke depannya, kami."

"Karena kami, Pak, sakit hati sebenarnya, Pak kalau dibilang sakit hati."

"Saya kira begitu. Tidak ada kenyamanan untuk sopir kami, sopir-sopir yang mengemudi di Tanjung Priok," keluh Abdul.

Selain soal premanisme, Abdul Hakim juga menceritakan soal banyaknya pungutan liar di sejumlah depo.

Depo adalah tempat meletakkan kontainer yang sudah dipakai atau mengambil kontainer yang akan dipakai shipping line.

Menurutnya, para karyawan depo sering meminta imbalan berupa uang tip agar laporannya bisa diproses segera.

"(Mereka) itu meminta imbalan lah, kalau enggak dikasih kadang diperlambat."

"Itu memang benar-benar, seperti Fortune, Dwipa, hampir semua depo rata-rata, itu Pak."

"Yang sekarang itu yang saya perhatikan itu yang agak-agak bersih cuma namanya Depo Seacon dan Depo Puninar, agak bersih sedikit."

"Lainnya hampir rata-rata ada pungli, Pak," beber pria berusia 43 tahun tersebut.

"Jadi contoh, Pak."

"Kita kan bawa kontainer nih, kosongan lah atau pun mau ambil (dalam keadaan) kosongan."

"Nah, kita laporan, kan. Diambillah. Itu harus ada uang tip, ia bilang 'Boleh, ya?' atau lima ribu."

"Paling kadang-kadang Rp 15 ribu, ada yang Rp 20 ribu."

"Itu, kalau enggak dikasih, ya masih dikerjakan cuma diperlambat."

"Alasannya, 'Yang sana dulu, yang ada duitnya' katakan saya begitu, tapi kalau mereka itu enggak mau ngomong, Pak."

"Jadi begitu kira-kira, Pak pungli di dalam depo itu, Pak," bebernya. (Taufik Ismail)

( WartaKotalive.com )

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved