Tribun Mamasa

Tuai Penolakan, Pelantikan Pemangku Adat di Tandukkalua Mamasa Dihentikan

Upacara pelantikan pemangku adat di Kelurahan Minake, Kecamatan Tandukkalua, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat dihentikan pihak kepolisian

Penulis: Semuel Mesakaraeng | Editor: Suryana Anas
TRIBUN-TIMUR.COM/SEMUEL MESAKARAENG
Tamu undangan dan tokoh masyarakat dipulangkan saat hendak menghadiri pelantikan. Upacara pelantikan pemangku adat di Kelurahan Minake, Kecamatan Tandukkalua, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat dihentikan pihak kepolisian, Selasa (2552031) pagi 

TRIBUNMAMASA.COM, TANDUKKALUA - Upacara pelantikan pemangku adat di Kelurahan Minake, Kecamatan Tandukkalua, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat dihentikan pihak kepolisian, Selasa (25/5/2031) pagi tadi.

Upacara ini terpaksa dihentikan oleh pihak keamanan, lantaran masyarakat menolak calon pemangku adat dilantik sebab dianggap tidak layak menjadi pemangku adat.

Untuk mencegah dilakukan pelantikan, warga memblokade pintu masuk lokasi yang akan jadi tempat berlangsungnya pelantikan.

Ratusan warga siaga di depan lorong lokasi pelantikan di poros Kelurahan Minake, berorasi menolak dilakukan pelantikan.

Dari pantauan di lokasi sekitar tempat pelantikan, tamu undangan yang mengenakan pakaian adat Mamasa baik tokoh masyarakat maupun tamu undangan tidak diperkenankan masuk di lokasi.

Bahkan sebagian besar dari tokoh masyarakat yang berpakaian adat lengkap terpaksa dipulangkan.

Daniel Rajuni, Koordinator Aksi yang melakukan penolakan mengatakan, pihaknya menolak pelantikan itu, lantaran dinilai abal-abal dan terkesan dipaksakan.

Alasannya karena pemangku adat di Tandukkalua, dan masyarakat Minake Tandeallo, tidak menyetujui dilakukan pelantikan.

Dia menjelaskan, pelantikan kepada Demma Napa alias Yesaya Pampang sebagai Pangku Adat Minake Tandeallo yang akan dilakukan tetua kampung, tidak disosialisasikan sebelumnya kepada pemerintah setempat maupun masyarakat

Bahkan Daniel menilai, secara adat Demma Napa tidak layak dilantik, sebab tidak ada keturunannya sebelumnya yang menjadi pemangku adat.

Bahkan kata dia, di Tandukkalua hanya ada satu Pemangku Adat, yanki di Rante Ambababang. 

"Saya bisa katakan bawah ini sangat tidak layak, sehingga seluruh masyarakat Minake menolak pelantikan ini," ungka Daniel Rajuni.

Rencana pelantikan ini mendapat pengawalan dari ratusan keamanan dari Kodim 1428 Mamasa, Polres Mamasa dan Brimob Polda Sulbar.

Kabag Ops Polres Mamasa, AKP Donni Kristianto, mengatakan, pada hari sebelumnya Polres Mamasa melakukan mediasi terhadap kedua belah pihak, namun tidak menemui kesepahaman.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved