Breaking News:

Refleksi Ramadan 1442

Membaca Surat Keputusan Lailatul Qadar

Kita harus menghindari kesalahpahaman tentang konsep takdir yang berarti keterpaksaan (Jabariyah). Kita harus mengetahui tentang konsep takdir (nasib)

Editor: AS Kambie
dok.tribun
Supratman Supa Atha'na, Dosen Sastra Asia Barat Fakultas Ilmu Budaya Unhas 

4. Malam  suka cita. Nabi Suci Saw. bersabda:’ Kegembiraan malam Al Quran pada malam Laylatul  Qadr.’

Dalam konsep takdir (nasib), aspek ketentuan dan keputusan lebih menonjol.

Kita harus menghindari kesalahpahaman tentang konsep takdir yang berarti keterpaksaan (Jabariyah). Kita harus mengetahui tentang konsep takdir (nasib) sedemikian rupa bahwa manusia memiliki kebebasan.

Dengan otoritas tersebut manusia menemukan dan menjalani takdir (nasib) tertentu.

Memang benar bahwa dalam dunia modern, orang cenderung menentukan nasib mereka sendiri.

Walaupun begitu dalam dunia modern juga tetap mengenal pembahasan atau kenyataan yang disebut dengan peluang.

Dalam konsep peluang tersebut, orang modern pun seringkali menemukan diri mereka menghadapi banyak peluang yang tidak jelas mana yang harus dijalani dalam kehidupan mereka sendiri.

Artinya, terlepas dari keyakinan optional (otoritas) yang dikenal dalam dunia modern, sepertinya peluang adalah sangat menentukan dalam kehidupan seseorang.

Dunia tradisional, dunia spiritual, dan dunia agama tampaknya lebih mengesampingkan konsep peluang dan lebih meneguhkan konsep yang lain yaitu takdir.  

Dalam konsep takdir ini, manusia tetap melihat kebijaksanaan dan penilaian ilahi, serta kehendak bebas manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, saya tidak menyangkal keyakinan bahwa pada malam Lailatul Qadar, takdir atau nasib manusia selama setahun ditentukan dan diputuskan tetapi tidak bertentangan dengan kehendak manusia.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved