Nasib Polisi Bantul & Istri, Usai Sebar Foto Nani Sate Beracun Berdaster di Penjara Lewat Status WA

Foto Nani Aprilia Nurjaman (25) tersangka sate sianida menggunakan daster warna kuning viral di media sosial.

Editor: Ina Maharani
kolase tribun timur
Nani Aprilliani Nurjaman memakai daster di sel tahanan 

TRIBUN-TIMUR.COM - Kasus sate beracun atau sate sianida menggemparkan Indonesia.

Karenanya pelakunya mendapat sorotan dari semua pihak.

Foto Nani Aprilia Nurjaman (25) tersangka sate sianida menggunakan daster warna kuning viral di media sosial.

Di foto yang beredar, Nani berada di dalam tahanan dan foto diambil dari balik jeruji.

Tak hanya satu foto. Ada beberapa foto Nani yang diambil saat berada di dalam penjara yang beredar di media sosial.

Kasat Reskrim Polres Bantul AKP Ngadi mengatakan foto Nani menggunakan daster diambil di tahanan Mapolsek Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Setelah ditangkap, Nani dititipkan ke tahanan Polsek Bantul karena polsek tersebut menjadi polsek perintis tahanan wanita.

Terkait beredarnya foto Nani menggunakan daster, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak Polsek Bantul.

Namun ia memastikan jika saat ini Nani dalam kondisi baik.

"Yang bersangkutan baik sehat. Tadi baik komunikasi, tidak ada tanda-tanda kelainan atau capek tidak ada. Sehat-sehat saja," ujar Ngadi.




Diambil oleh anggota Polsek Bantul

ilustrasi penjara

ilustrasi penjara(PEXELS.com/RODNAE Productions)

Saat dikonfirmasi, Kapolsek Bantul Kompol B Ayom membenarkan jika foto tersebut diambil oleh salah satu anggotanya.

Foto tersebut diambil pada Sabtu (1/5/201) saat Nani ditahan di Polsek Bantul.

Ayom mengatakan foto tersebut diambil oleh anggotanya untuk dikirim ke keluarga Nani sebagai bukti bahwa Nani belum mendapat kiriman pakaian dan hanya menggunakan daster.

Diunggah Istri ke WA

Setelah lepas dinas, anggotanya menceritakan kasus Nani kepada istrinya dan mengirim foto pelaku yang mengenakan daster.

"Lalu difoto dan setelah lepas dinas itu, istri anggota tanya ada cerita apa, ada tahanan masalah sate?," ucap Ayom kepada wartawan.

Nahas. Foto tersebut diunggah oleh istri anggota Polsek Bantul di story WhatsApp pribadinya hingga tersebar luas.

Ayom mengaku sudah menegur anggotanya agar kejadian tersebut tak terulang.

"Kita kasih teguran karena itu tidak boleh. Tapi kan itu tidak sengaja karena itu untuk pribadi dan istrinya ingin tahu, dikirim terus dijadikan status dan di-download teman-temannya," ucapnya.

Disebut melanggar kode etik

Suasana Rumah Nani Apriliani Nurjaman di Padukuhan Cepolojajar RT 3, Kalurahan Sitimulyo, Piyungan, Bantul Selasa (4/5/2021)

Suasana Rumah Nani Apriliani Nurjaman di Padukuhan Cepolojajar RT 3, Kalurahan Sitimulyo, Piyungan, Bantul Selasa (4/5/2021)(KOMPAS.COM/MARKUS YUWONO)

Sementara itu Kadiv Humas Jogja Police Watch (JPW) Baharudin Kamba menganggap foto Nani menggunakan daster tersebar karena ada unsur kesengajaan.

Anggapan tersebut muncul karena foto tersebut diambil oleh anggota kepolisian.

"JPW menganggap ada unsur kesengajaan yang dilakukan oleh oknum polisi beserta istrinya."

"Pertama, karena anggota Polsek Bantul itu dengan sadar mengambil foto tersangka NA sebanyak dua kali tanpa hak meskipun alasannya bahwa tersangka NA berpakaian daster dan belum mendapatkan pakaian dari pihak keluarga tersangka NA," ujar Kamba melalui keterangan tertulis, yang diterima Selasa, (5/5/2021).

Ia juga menyebut istri anggota polisi secara sadar menjadikan foto Nani di status WhatsAppanya hingga viral di media sosial.

"Secara sadar istri dari anggota Polsek Bantul tersebut menjadikan foto tersangka NA di dalam sel ke status WhatsApp dan viral di media sosial. Padahal status WhatsApp yang kita miliki dapat dilihat maupun di-share ke orang lain," imbuh dia.


Nasib Oknum Polisi dan Istri

Kamba menambahkan hak seseorang yang ditahan oleh kepolisian dilindungi oleh Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia  (Perkapolri 8/2009).

Selain yang diatur pasal 57, pasal 58,  pasal 59, pasal 60, pasal 61, pasap 62 dan pasal 63 pada Undang -undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Salah satu tujuan Perkapolri 8/2009 ini adalah untuk menjamin pemahaman prinsip dasar HAM oleh seluruh jajaran Polri agar dalam melaksanakan tugasnya senantiasa memperhatikan prinsip-prinsip HAM.

Pada pasal 22 ayat  3) Perkapolri 8/2009 yang mengatakan bahwa tahanan yang pada dasarnya telah dirampas kemerdekaannya harus tetap diperlakukan sebagai orang yang tidak bersalah sebelum ada putusan hukum yang berkekuatan tetap atau inkracht.

"JPW mendorong Propam Polda DIY untuk melakukan pemeriksaan adanya dugaan pelanggaran kode etik terhadap anggota Polsek Bantul beserta istrinya terkait foto tersangka NA yang berada di dalam sel tahanan dan sempat viral di media sosial," katanya.

 "Tidak cukup dengan pemanggilan dan teguran terhadap anggota Polsek Bantul tersebut," jelasnya.

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved