Breaking News:

Mukjam Ramadan

BAYYINATI; Kejelasan Bahwa Syukur Itu Harus Baru dan Selalu

DI hari ke-21 mengulik sejarah, kata, asal kata, kalimat, dan kemuliaan ayat-ayat puasa di bulan Ramadan ini, penulis kembali mengkonfirmasi bahwa

TRIBUN TIMUR/THAMZIL THAHIR
Ilustrasi shalat tarawih. 

Thamzil Thahir

Editor In Chief Tribun Timur

DI hari ke-21 mengulik sejarah, kata, asal kata, kalimat, dan kemuliaan ayat-ayat puasa di bulan Ramadan ini, penulis kembali mengkonfirmasi bahwa keimanan itu tua dan kesyukuran itu baru dan selalu.

Keimanan tua; sebab Alquran itu sungguh mukjizat kepada Muhammad, petunjuk Allah bagi umat manusia, dan tak ada keraguan di dalamnya.

Kesyukuran baru; sebab kita masih diberi nikmat kesehatan masih bisa berbagi, dan mensyukuri semua nikmat.

Syukur sebab saya hanya mengulik "seupil cuil" dari 5 ayat puasa (183-187) di surah II; Albaqarah), syukur itu kian tiada tara.

Saya, (sebagaimana ditulis para guru dan ulama sebelum kita) bahwa kian membaca Alquran kita akan selalu "menemukan" hal baru , dan sungguh menakjubkan.

Itu baru 5 dari total 6.236 ayat di 114 surah, bola mata ini salalu basah.

Bahkan terkadang, melalui mukjam dan ulumul quran, waktu ini habis untuk membuktikan saling kecocoka (attibyan) satu dengan kata di ayat atau surah lain.

Allahu Akbar.

Halaman
123
Penulis: Thamzil Thahir
Editor: Edi Sumardi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved