Breaking News:

Mukjam Ramadan

ALFURQAN: Penyemangat Sebelum dan Sesudah Perang Badar

Perang Badar adalah klimaks dari kondisi sarat emosi dan menegangkan di periode transisi Hijrah, Mekkah - Madinah.

Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Sakinah Sudin
Kolase Tribun Timur/ Thamzil Thahir
Ilustrasi. 

Wilayah perang ini di sekitar sumur milik tetua kampung, Badar ibn Narain.

Mata air ini berada sekitar (144,5 km barat daya Madinah dan 263 KM timur Mekkah.

Berada di wilayah pertengahan dua kota spiritual (Mekah) dan perkebunan subur (Madinah), mata air inilah jadi tempat istirahat kabilah.

Perang ini sejatinya tak seimbang; Muslim 313 tentara 'baru namun berani', dan Kaum Musyrik sekitar 1.100 personel terlatih lama.

Komposisi dan kualifikasinya pun jomplang.

Dari 313 personel, hanya 2 penunggang kuda (panglima perang), 70 unta pembawa bekal dan senjata (artileri), sisanya infanteri pedang, pemanah dan pejalan kaki.

Sementara kaum Musyrik dan Qurays Madinah pimpinan Abu Sufyan, 100% bersenjata, 80%nya bersirah besi, 70% berkuda dan berkendara onta, dengan full suplai makanan.

Modal umat Muslim adalah iman, dan keyakinan bahwa ayat Allah mengirim 3.000 tentara dari pasukan langit (Malaikat) pasti datang membantu. (Ali Imran: 124-125)

Akhirnya, perang 3 hari (17 hingga 19 Ramadan 2 Hijriyah) itupun dimenangkan umat Muslim.

Sekitar 70 tentara Qurais mati, ini termasuk tri musketeer Qurais; Walid bin Utbah, Syaibah bin Robi’ah dan Utbah bin Robi’ah yang tewas di tajamnya pedang Trio Syaifullah; Ali bin Abi Tholib, Hamzah bin Abdul Mutholib dan Ubaidah bin Harits.

Sebelum disambut Shalawat Badar, di perjalanan pulang ke Madinah, Rasulullah mengingatkan sahabat dekatnya, kemenangan jihad di yaumal furqan dan yaumal taqal jamanu, hanya satu sukses dari pertempuran kecil.

‎ أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

"Jihad paling utama adalah berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya".

Pesan melawan hawa nafsu dari Rasullah inilah yang mengkonfirmasikan kenapa Rasulullah membagi dua kelompok tawanan perang dari Kaum Quraish.

Pertama tawanan kaya harus menebus dengan uang lalu dibebaskan.

Kelompok Tawanan tak mampu harus menetap periodik di Madinah dengan sanksi visioner; mengajar membaca dan menulis kepada masing-'masing 10 anak-anak Muslim. (*)

Wallahu A'lam bi sawab

Tabaria, 22 Ramadan 1442 H/ 4 Mei 2021

Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved