Breaking News:

Mukjam Ramadan

ALFURQAN: Penyemangat Sebelum dan Sesudah Perang Badar

Perang Badar adalah klimaks dari kondisi sarat emosi dan menegangkan di periode transisi Hijrah, Mekkah - Madinah.

Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Sakinah Sudin
Kolase Tribun Timur/ Thamzil Thahir
Ilustrasi. 

Rumah, sandang, ternak, dan alat kerja, mulai dilucuti dan digerus perlahan oleh kaum kafir Qurays Mekkah.

Pun, emosi para sahabat tambah membuncah, sebab walau perintah perang sudah turun dari langit, namun masih ada larangan perang di empat bulan hurum (Rajab, Zulqaidah, Rajab dan Zulhijjah).

Eskalasi emosi juga kian membuncah menyusul ayat-ayat peringatan mewaspadai oknum Muslimin alias orang-orang munafik juga selalu diselipkan dalam wahyu.

Sebagai manusia, Muhammad bin Abdullah tentu resah jua.

Jabal Uhud di Madinah pun jadi tempat bermunajat sekaligus melampiaskan rindu kampung moyang Bani Hasyim, di Mekah.

Toh, selaku utusan Allah, Muhammad tetap harus memainkan peran nubuatnya; pembawa kabar baik, benar
nan menenangkan.

Di periode Madaniyah awal inilah, Rasulullah banyak memberi teladan amaliyah tambahan; salat tahajjud, salat sunnat rawatib qabliyah dan ba'diyah, dan bersadaqah.

'Beruntung', Malaikat Jibril AS datang "mendongengkan" ayat-ayat kesalehan, keteguhan iman, dan kesabaran nabi-nabi dan umat sebelum Islam.

Ayat-ayat berbagi, memelihara dan memberi makan anak yatim, juga mulai diturunkan berangsur (QS;2;188-190) misalnya.

Di periode emosional inilah, --awal bulan ke-8 Sya'ban-- , perintah Puasa Ramadan turun (QS 2:185-187), sekaligus me-nasih - mansuuh (meralat dan melengkapi) perintah puasa umat terdahulu (QS 2;183-184) juga turun.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved