Breaking News:

Tribun Makassar

Masyarakat Bugis di Malaysia Masih Pertahankan Arsitektur Rumah Bugis

Dr Muhammad Solehin Fitry dari Universiti Teknologi Malaysia membahas mengenai peran tokoh-tokoh Bugis bagi kerajaan dan permukiman di Malaysia

Unismuh
Kuliah Tamu Prodi Arsitektur Unismuh melalui webinar edisi ketiga bertajuk Journey in The Royal Towns of The Johor Sultanate Concept and Identity, Sabtu (1/5/2021). 

TRIBUN-TIMUR.COM,MAKASSAR - Bulan puasa tidak menghalangi produktivitas prodi Arsitektur Unismuh Makassar untuk menggelar kegiatan-kegiatan positif yang berkaitan dengan pengembangan keilmuan.

Kegiatan yang digelar yakni Kuliah Tamu atau Kultum tersebut digelar melalui webinar edisi ketiga bertajuk Journey in The Royal Towns of The Johor Sultanate Concept and Identity, Sabtu (1/5/2021).

Adapun yang menjadi narator tersebut yakni Dr Muhammad Solehin Fitry yang berasal dari Universiti Teknologi Malaysia.

Muhammad Solehin memaparkan  perkembangan kota yang dipengaruhi oleh keberadaan kesultanan Melayu serta membahas mengenai peran tokoh-tokoh Bugis bagi kerajaan dan permukiman di Malaysia.

Dulunya orang Bugis adalah pahlawan yang membantu kerajaan melawan penjajah, bahkan hingga sekarang masyarakat Bugis masih mempertahankan arsitektur rumahnya,” terang Muhammad Solehin.

Dirinya menuturkan jika Kesultanan Johor  terkadang juga disebut Kesultanan Johor Riau, yang dimana didirikan di paruh pertama abad ke-16 oleh sultan Melaka yang digulingkan, kemudian memerintah bersama dengan para ahli warisnya.

Ia bercerita diantara kerajaan-kerajaan serta para penguasa Melayu, Johor merupakan salah satu dari kekuatan politik atau negara yang bersaing ketat.

Persaingan tersebut untuk memantapkan perannya sebagai ahli waris Melaka, demikian pula ketika kawasan tersebut mulai dikuasai oleh kekuatan kolonial Eropa, hingga akhir abad ke-16, penguasanya terkadang juga disebut Kaisar dari Para Raja Melayu.

Ketua Prodi Arsitektur Unismuh Makassar, Dr Irnawaty Idrus, juga mengungkapkan bahwa materi kuliah umum ini sangat bermanfaat untuk dijadikan pelajaran di Indonesia.

“Dari kuliah umum ini peserta diperkenalkan mengenai tata kota, morfologi, peran dan pengaruh kota-kota sebagai tempat lahir politik, budaya dan sejarah bagi masyarakat yang menjadi simbol naik turunnya kesultanan di Malaysia, dari hal tersebut tentunya akan ada pelajaran yang dapat kita petik untuk pengembangan kota-kota di Indonesia,” tambah Irnawaty Idrus.

Lebih lanjut, ia mengatakan Kemampuan masyarakat tradisional dalam mempertahankan eksistensinya menjadi sebuah perjuangan yang sangat berat.

Pasalnya, nilai nilai kearifan lokal yang terangkum dalam sastra tutur keseharian menjadi semakin langka.

"Banyak masyarakat yang mengedepankan sikap realistis, meninggalkan ajaran tradisi yang ditanamkan oleh para tetua adat mereka, nah kecenderungan tersebut kadang mendangkalkan nilai tradisi menjadi lebih meluas ketika lingkungan memberikan dukungan,"lanjutnya.

"Hal inilah membuat Ketidak berdayaan masyarakat adat dalam mempertahankan eksistensinya yang merupakan ancaman serius untuk estafet nilai tradisi selanjutnya," jelasnya.

Kegiatan kolaborasi internasional bersama Universiti Teknologi Malaysia ini dihadiri puluhan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga masyarakat umum. (*)

Penulis: Dian Amelia
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved