Breaking News:

Refleksi Ramadan 1442

Ramadan Redam Permusuhan Filosofis, Puasa Pondasi Ikhlas dan CInta

Peningkatan aktivitas berjamaah selama Ramadan seperti buka puasa bersama dan ritual keagamaan lainnya pada gilirannya memperkuat lingkaran sosial

Editor: AS Kambie
dok.tribun
Supratman Supa Atha'na, Dosen Sastra Asia Barat Fakultas Ilmu Budaya Unhas 

Mungkin seperti itu kurang lebih yang dimaksud oleh sosiolog Perancis Auguste Comte percaya bahwa fondasi ketertiban dan persatuan sosial terletak pada agama.

Menurut Auguste Comte, agama punya peran sebagai faktor pemersatu sosial.

Rasa kasih dan sayang adalah elemen paling penting dalam komunikasi.

Rasa itu akan muncul ketika seseorang dapat menekan rasa egois dan angkuh dalam dirinya dan mencoba untuk menghadirkan dan menenmpatkan dirinya dalam diri dan posisi orang lain.

Hal itu bisa terjadi bila ada keikhlasan dalam diri seseorang.

Keikhlasan itu  bersumber dari puasa.

 Inilah mengapa dikatakan bahwa Ramadan menciptakan kearifan.

Setelah Ramadan semestinya jumlah orang baik dan bijak semakin meningkat yaitu membentuk solidaritas sosial yang tinggi sehingga tidak ada lagi perilaku masyarakat yang menyimpang seperti korupsi, persekusi, teroris, rasis atau pun krisis dalam berbagai dimensinya.

Untuk alasan ini, Ramadan disebut sebagai bulan mulia yang penuh berkah dan hikmah.

Hikmah adalah ilmu pengetahuan yang sangat dalam yang pada dasarnya paling dalam dan merupakan inti dari CInta.

Oleh karena itu, dengan berpuasa yang mewujudkan rasa ikhlas dan cinta, kita tidak menderita dalam nihilisme mistik dan atau pun permusuhan filosofis.

Cinta itu nyata dan mendamaikan dalam wujud sosialnya adalah solidaritas sosial.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved