Stadion Mattoanging
OPINI: Ada Apa dengan Stadion Mattoanging?
Kini tersisa reruntuhan bangunan dan beberapa titik lubang tergenang air. Rumput liar menutupi beberapa bongkahan bebatuan dan tanah.
Oleh: Sadakati Sukma
Sekretaris Komunitas Suporter Red Gank
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Stadion Mattoanging diratakan pada Oktober tahun lalu, hingga hanya tampak dengan wajah baru, wajah yang tak diinginkan.
Kini tersisa reruntuhan bangunan dan beberapa titik lubang tergenang air. Rumput liar menutupi beberapa bongkahan bebatuan dan tanah.
Ketika dibongkar, pemerintah berjanji akan membangun Stadion Mattoanging yang baru dan lebih bagus.
Namun kini itu tak ubahnya Pemberi Harapan Palsu (PHP ).

Hanya dibongkar dan (mungkin) tak akan dibangun lagi dan meninggalkan sesak di dada.
Lima bulan berlalu, tak ada aktivitas di kawasan ini.
Kita kehilangan wajah pemain-pemain sepak bola idola yang terpaksa harus pindah tempat berlatih dan tanding. Pelari cepat di lintasan khusus itu entah ke mana. Anak-anak yang saban sore mengitari lapangan.
Awalnya kita bisa menerima.
Meyakini bahwa itu kondisi sementara.

Kita hanya perlu bersabar, sebab The New Mattoanging hanya soal waktu. Kita cuma harus menyiapkan suara dan tenaga untuk kembali bersorak mendukung tim kebanggaan.
Tetapi semakin hari semakin berkurang keyakinan itu. Seakan jiwa Mattoanging telah terkubur di reruntuhan bangunannya sendiri. Miris, sedih, dan tanpa harapan. Keinginan untuk melihat wajah baru stadion yang dibangun tahun 1954 dan diresmikan oleh Presiden Sukarno pada 6 Juli 1957 seakan sirna dan memunculkan pertanyaan. Kapan stadion ini akan berdiri kembali?
Janji Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah pembongkaran akan rampung pada akhir Desember, selanjutnya dimulai pembangunan kembali pada awal 2021, belum terbukti.
Tambah apes karena pejabat yang menjanjikan itu kini dibui KPK.
Padahal, semua perencanaan dan persiapan teknis perizinan, menurut beberapa sumber, telah dirampungkan.
Entah kenapa semuanya harus terhenti. Tiba-tiba semuanya menjadi bola panas.
Terjadi perbedaan pernyataan antara Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman yang kini menjabat sebagai Plt. Gubernur, Kadispora Sulsel, DPRD Sulsel. Ditambah lagi beberapa pernyataan Wali Kota Makassar Ramdhan Pomanto yang secara tegas mengatakan desain dan rencana pembangunan Stadion Mattoaanging melanggar beberapa aspek. Termasuk IMB dan Amdalalin. Stadion itu juga dinilainya tidak sesuai dengan tata kota Makassar dan lain sebagainya.

Hal ini kemudian membuat kami para pencinta sepak bola pada khususnya dan masyarakat Sulawesi Selaran bertanya. "Ada apa dengan Stadion Mattoanging? Apa yang salah?
Apakah karena gubernur sedang ditahan? Atau apakah pengambil kebijakan di Kota Makassar dan Provinsi Sulawesi Selatan memang tidak menginginkan berdirinya kembali Stadion Mattoanging? Atau apakah mereka punya kepentingan lain di balik ini semua?
Sangat wajar pertanyaan ini.
Sebagai pencinta sepak bola dan warga Kota Makassar yang katanya sedang menuju kota dunia, ibu kota provinsi terbesar di luar Pulau Jawa, harus terancam tidak memiliki stadion sepak bola yang berstandar. Harusnya malu pada kota-kota kecil di luar yang bahkan memiliki lebih dari satu stadion.
Apalagi kita tahu Stadion Mattoanging sarat dengan sejarah.
Bukan hanya sebagai sarana olahraga, khususnya sepak bola.
Mattoanging adalah salah satu simbol perjuangan masyarakat Sulawesi Selatan di masa lalu, terbukti Stadion Mattoanging termasuk bangunan cagar budaya yang tercatat.
Stadion Mattoanging telah melahirkan banyak legenda sepak bola. Baik yang pernah bermain di PSM Makassar maupun Makassar Utama. Beberapa pemain nasional juga lahir dari situ.
Begitupun dengan prestasi klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan, PSM Makassar. Stadion Mattoanging adalah satu-satunya markas PSM Makassar, bahkan di era ini PSM Makassar tidak biaa terlepas dari Stadion Mattoanging ini.
Atas dasar itu aliansi pencinta sepak bola, suporter PSM Makassar, dan masyarakat di Sulawesi Selatan mulai menyuarakan untuk menyelamatkan Stadion Mattoanging.
Menemui DPRD, melakukan aksi damai, memasang spanduk dukungan hingga turun di jalan, tapi semuanya itu seakan tidak terpengaruh untuk mengetuk hati para penguasa di Kota Makassar dan Sulawesi Selatan.

Kita tahu pendanaan yang menjadi persoalan utama terhambatnya pembangunan stadion sebenarnya telah ada solusi. Sudah ada persetujuan dari pihak DPRD Provinsi Sulawesi Selatan.
Dana pinjaman Pemulihan Ekonomi Nasional atau PEN dengan nilai sekitar Rp1,16 triliun yang sebelumya diajukan tidak bisa dicairkan karena Plt. Gubernur Sulawesi Selatan menganggap utang provinsi masih banyak. Dia enggan terbebani dengan utang baru.
Padahal pencairan tahap awal sebagai biaya untuk pembongkaran, lelang manajemen konstruksi, dan detail engineering design telah dikucurkan.
Kini harapan tinggal harapan, tak ada pembangunan Stadion Mattoanging. Semua hilang, semua sirna seiring matinya sejarah Stadion Mattoanging.
Melalui tulisan ini saya ingin mengajak kepada kita semua yang masih mencintai dan menginginkan kembali Stadion Mattoanging. Tak peduli apakah akan dibangun dengan desain awal atau akan diubah. Asalkan stadion kebanggaan kita semua ini dapat kembali berdiri dan dipergunakan untuk sepak bola, hiburan dan harga diri kita.
Mari bersama memberikan dukungan dan mengetuk hari nurani para pengambil kebijakan. Kalau tidak bisa lagi diketuk, tentu harus kita dobrak. Dobrak yang keras. (*)