Breaking News:

Tribun Mamasa

Wujudkan Toleransi di Mamasa, Sanggar Seni Wai Sapalelean Lantunkan Salawat dengan Musik Bambu

Wujudkan Toleransi di Mamasa, Sanggar Seni Wai Sapalelean Lantunkan Salawat dengan Musik Bambu

Penulis: Semuel Mesakaraeng | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM/SEMUEL
Sanggar Seni Wai Sapalelean melantunkan salawat dengan musik bambu. 

TRIBUNMAMASA.COM, MAMASA - Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, tak salah jika disebut sebagai miniatur Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Itu karena terdapat beberapa suku, ras, dan agama yang mendiami wilayah pegunungan Sulawesi Barat itu.

Jika dipresentasikan, Kabupaten Mamasa memiliki 80 persen penduduk yang beragama kristiani.

Selebihnya itu beragama muslim, kepercayaan nenek moyang dan hindu.

Meski begitu, tidak pernah terdengar adanya riak-riak persoalan agama yang muncul di Bumi Kondo Saopata' ini.

Itu karena masyarakat masih sangat menghargai perbedaan suku, ras dan agama.

Bahkan terkadang masyarakatnya saling gotong royong antar umat yang berbeda keyakinan.

Seperti dibuktikan Sanggar Seni Wai Sapalelean yang mewujudkan toleransi melalui lantunan salawat badar dengan menggunakan musik bambu khas Mamasa.

Sejumlah pemuda dari kalangan umat kristiani ini, sengaja melantunkan lagu salawat, sebagai wujud solidaritas.

Tiupan seruling dan pompang (musik bambu khas Mamasa) seirama melantunkan salawat, terdengar merdu di atas puncak Salu Kodo, Desa Osango, Kecamatan Mamasa, kala menyambut buka puasa, Selasa (27/4/2021).

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved