Breaking News:

Boneka untuk Aulia

Sebelum pamit, kami berpesan kalau Aulia jangan dikurung. Biarkan saja dia bermain dengan temannya.Tapi harus tetap dalam pengawasan keluarga

Editor: AS Kambie
dok.tribun
Aulia, putri almarhum Kepala Dusun Katangka, Auliani, di kediaman pribadi, beberapa waktu lalu. 
Caleg DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Bulukumba-Sinjai Syahruni Aryanti.

Oleh:
Syahruni Aryanti,
Politisi Partai Nasdem Bulukumba/Ketua MD Forhati Bulukumba
Melaporkan dari Bulukumba

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Perempuan mungil dan cantik itu bernama Aulia.

Usianya baru delapan tahun. Baru baru ini, dia mengalami hal yang sungguh tragis.

Dia kehilangan ibunda tercinta di depan matanya karena dibunuh oleh tetangganya sendiri.

Ibunya, Aliani, adalah Kepala Dusun Katangka, Desa Karama, di Kabupaten Bulukumba, Sulsel.

Aliani menjabat sebagai kepala dusun belum lama.

Baru sekitar 2 bulan setelah melalui proses seleksi oleh desa setempat.

Kejadian berdarah itu terjadi pada hari Senin siang, tepatnya di tanggal 19 April 2021.

Saat itu, Aulia dan ibunya baru saja balik dari kantor desa.

Mereka melaporkan adanya ancaman dari warga yang datang semalam ke rumah orang tuanya.

Ancaman itu terkait pengerjaan jalan rabat beton yang lebih tinggi dari rumah seorang warga sehingga warga itu minta dikerjakan jalan masuk ke rumahnya.

Atas permintaan itu, Aliani langsung menolak.

Dia tegas mengatakan, untuk urusan jalan masuk ke rumah dikerjakan warga masing-masing.

Warga itu sudah diberikan bahan untuk membuat jalan masuk ke rumahnya.

Namun persoalan yang boleh dikata sepele dan masih bisa dikomunikasikan itu berbuah tragedi.

Aliani ditemukan anaknya bersimbah darah di depan rumahnya dengan puluhan luka tusukan dan memar di sekujur tubuhnya.

Aulia yang menemukan ibunya tertelungkup berdarah di depan rumahnya berteriak histeris memanggil tetangga untuk membantu ibunya.

Saat itu ibunya sudah tidak bisa tertolong lagi.

Aulia adalah sosok anak yang sangat dekat dengan ibunya.

Ke mana pun ibunya pergi, dia selalu di ajak.

Mereka sering berboncengan ke kota.

Mereka berdua boleh dikata nyaris tidak terpisahkan dalam kesehariannya.

Saat bangun pagi, ibunya memandikan dan menyuapi anaknya setiap makan.

Bahkan selama pandemi, mereka beraktivitas bersama hingga tidur.

Saat kejadian, ayah Aulia sedang merantau atau mengadu nasib di Malaysia.

Namun saat saya berkunjung ke rumahnya, ayahnya sudah pulang.

Sang ayah tidak sempat menyaksikan istrinya untuk terakhir kalinya karena sudah dikuburkan.

Aulia sangat kehilangan ibunya.

Dia sempat dikurung dalam rumah oleh neneknya yang masih kuatir kalau-kalau tersangka akan menculik cucunya.

Aulia adalah saksi kunci peristiwa itu.

Jumat malam kemarin, tanggal 23 April 2021, tersangka tertangkap di Bandara Soeta Tangerang saat hendak terbang ke Timika.

Semoga dia mendapat hukuman yang pantas atas perbuatannya.

Mendengar kasus ini saya dan teman-teman tergerak untuk datang ke rumahnya dan men-support keluarga terutama Aulia.

Saya cuma meminta ke teman-teman untuk membawakan mainan dan makanan ringan kesukaan anak-anak.

Untuk sampai ke rumah nenek Aulia kami harus berjalan kaki sekitar 200 meter karena jalan rabat beton masih belum kering benar dan mobil belum diizinkan untuk lewat.

Begitu sampai di rumahnya suasana berkabung masih begitu terasa.

Tenda biru dan kursi masih tersusun depan rumahnya menandakan keluarga masih berdatangan untuk berbelasungkawa.

Saat tiba di rumahnya, kami disambut ayah dan nenek Aulia yang begitu ramahnya mempersilakan kami masuk walaupun boleh dikata kami bukan orang yang mereka kenal sama sekali.

Begitu tiba dan duduk di lantai, saya memperkenalkan diri dan teman-teman kalau kami berasal dari Bulukumba juga dan dari organisasi Forum Alumni HMI-Wati, Forhati Bulukumba, yang pasti masih begitu asing tapi saya tidak memikirkan itu karena tujuan kami saat itu adalah datang untuk men-support keluarga terutama untuk anaknya.

Setelah ngobrol sejenak dan orang tua Aliyani sedikit menceritakan kronologis kejadian saya mulai mencari Aulia.

Rupanya dia tertidur di teras rumahnya.

Dia dijaga keluarganya.

Dia lalu dibangunkan neneknya untuk pindah tidur ke dalam rumah.

Dalam kondisi mengantuk Aulia masuk dan kembali berbaring di pangkuan neneknya.

Saya lalu mengeluarkan boneka beruang dari tas dan memanggil namanya.

Sempat sekilas Aulia melihat ke arah boneka itu.

Saya lalu menyerahkan boneka itu.

Aulia langsung mengambilnya, memeluknya erat lalu kemudian berbaring lagi d pangkuan neneknya.

Saat itu, kami merasakan haru.

Kami tidak menyangka reaksi dari Aulia yang sepertinya sangat menginginkan boneka itu.

Karena memperlakukannya seolah barang yang sangat berharga

Neneknya bercerita, pagi tadi Aulia meminta dibelikan boneka di pasar.

Katanya untuk temannya tidur.

Akhirnya kami paham.

Hingga kami pulang Aulia membawa terus boneka itu dan memeluknya .

Saya lalu membayangkan Aulia kecil yang setiap malamnya tidur dalam pelukan ibunya tiba tiba harus terpisahkan karena tragedi berdarah.

Mungkin dalam benak Aulia boneka kecil itu adalah temannya saat ini pengganti ibunya yang telah tiada.

Sebelum pamit, kami berpesan kalau Aulia jangan dikurung.

Biarkan saja dia bermain dengan temannya. Tapi harus tetap dalam pengawasan keluarga.

Anak ini butuh bermain untuk melupakan bayang- bayang trauma.

Sebisa mungkin kebiasaan setiap harinya dengan ibunya tetap dilakukan termasuk jika makan disuapi.

Sedikit demi sedikit anak ini akan tumbuh mandiri dan bisa menerima kondisi kehilangan ibunya.

Semoga Aulia tumbuh jadi anak yang baik, berbakti, dan terus mendoakan orang tuanya. Semoga dia selalu jadi permata kebanggaan semua keluarganya. Amin.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved