Breaking News:

Boneka untuk Aulia

Sebelum pamit, kami berpesan kalau Aulia jangan dikurung. Biarkan saja dia bermain dengan temannya.Tapi harus tetap dalam pengawasan keluarga

dok.tribun
Aulia, putri almarhum Kepala Dusun Katangka, Auliani, di kediaman pribadi, beberapa waktu lalu. 

Semoga dia mendapat hukuman yang pantas atas perbuatannya.

Mendengar kasus ini saya dan teman-teman tergerak untuk datang ke rumahnya dan men-support keluarga terutama Aulia.

Saya cuma meminta ke teman-teman untuk membawakan mainan dan makanan ringan kesukaan anak-anak.

Untuk sampai ke rumah nenek Aulia kami harus berjalan kaki sekitar 200 meter karena jalan rabat beton masih belum kering benar dan mobil belum diizinkan untuk lewat.

Begitu sampai di rumahnya suasana berkabung masih begitu terasa.

Tenda biru dan kursi masih tersusun depan rumahnya menandakan keluarga masih berdatangan untuk berbelasungkawa.

Saat tiba di rumahnya, kami disambut ayah dan nenek Aulia yang begitu ramahnya mempersilakan kami masuk walaupun boleh dikata kami bukan orang yang mereka kenal sama sekali.

Begitu tiba dan duduk di lantai, saya memperkenalkan diri dan teman-teman kalau kami berasal dari Bulukumba juga dan dari organisasi Forum Alumni HMI-Wati, Forhati Bulukumba, yang pasti masih begitu asing tapi saya tidak memikirkan itu karena tujuan kami saat itu adalah datang untuk men-support keluarga terutama untuk anaknya.

Setelah ngobrol sejenak dan orang tua Aliyani sedikit menceritakan kronologis kejadian saya mulai mencari Aulia.

Rupanya dia tertidur di teras rumahnya.

Dia dijaga keluarganya.

Dia lalu dibangunkan neneknya untuk pindah tidur ke dalam rumah.

Dalam kondisi mengantuk Aulia masuk dan kembali berbaring di pangkuan neneknya.

Saya lalu mengeluarkan boneka beruang dari tas dan memanggil namanya.

Sempat sekilas Aulia melihat ke arah boneka itu.

Saya lalu menyerahkan boneka itu.

Aulia langsung mengambilnya, memeluknya erat lalu kemudian berbaring lagi d pangkuan neneknya.

Saat itu, kami merasakan haru.

Kami tidak menyangka reaksi dari Aulia yang sepertinya sangat menginginkan boneka itu.

Karena memperlakukannya seolah barang yang sangat berharga

Neneknya bercerita, pagi tadi Aulia meminta dibelikan boneka di pasar.

Katanya untuk temannya tidur.

Akhirnya kami paham.

Hingga kami pulang Aulia membawa terus boneka itu dan memeluknya .

Saya lalu membayangkan Aulia kecil yang setiap malamnya tidur dalam pelukan ibunya tiba tiba harus terpisahkan karena tragedi berdarah.

Mungkin dalam benak Aulia boneka kecil itu adalah temannya saat ini pengganti ibunya yang telah tiada.

Sebelum pamit, kami berpesan kalau Aulia jangan dikurung.

Biarkan saja dia bermain dengan temannya. Tapi harus tetap dalam pengawasan keluarga.

Anak ini butuh bermain untuk melupakan bayang- bayang trauma.

Sebisa mungkin kebiasaan setiap harinya dengan ibunya tetap dilakukan termasuk jika makan disuapi.

Sedikit demi sedikit anak ini akan tumbuh mandiri dan bisa menerima kondisi kehilangan ibunya.

Semoga Aulia tumbuh jadi anak yang baik, berbakti, dan terus mendoakan orang tuanya. Semoga dia selalu jadi permata kebanggaan semua keluarganya. Amin.(*)

Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved