Breaking News:

Mukjam Ramadan

Safarin; Puasa itu Mobilitas Ruang Luar

SAFARI(n) (سَفَرٍ) sudah diadaptasi banyak bahasa dan bangsa di dunia. Artinya perjalanan atau petualangan di alam atau gurun sahara.

Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Sakinah Sudin
Tribun Timur/ Thamzil Thahir.
Ilustrasi. 

Penggunan berurut Safarin di dua puasa; 184 dan 185 ini, oleh Ibnu Katsir; ditafsirkan sebagai nasih mansukh (ketentuan peralihan sekaligus pembatalan ayat puasa sebelumnya)

Meski ayatnya berdekatan; namun periode turunya dua ayat ini berbeda.

Ayat 183 dan 184 hanya perintah puasa laiknya puasa umat terdahulu, yang juga periodenya dan masa puasanya telah ditentukan di kitab-kitab sebelumnya; puasa 3 hari Assyura, misalnya.

Ini sekitar 1 hijriyah atau saat nabi baru tiba di Madinah.

Sedangkan ayat 185 hingga 187; barulah perintah khusus puasa Ramadan (tahun kedua hijriyah).
Ibnu Katsir menjelaskan;

"Pada mulanya orang yang menghendaki puasa, ia boleh puasa; dan orang yang tidak ingin puasa, maka ia memberi makan seorang miskin sebagai ganti dari puasanya."

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat 185:

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sampai dengan firman-Nya Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu).

Tentang berapa jarak seseorang disebut dalam kondisi perjalanan, ulama berbeda pendapat.

Menyitir Ibn Mundzir di Buku III/halaman 109 Subulu Assalam, Imam ash-Shan’ani rahimahullah menyebut ada sekitar dua puluh pendapat.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved