Breaking News:

Mukjam Ramadan

Puasa (Juga) untuk Laallakum Tasykurun

Padahal, di lima ayat rujukan puasa bulan Ramadan (surah Sapi Betina; 183-187) ada (juga) tujuan lain; laallakum tasykurun (supaya kalian bersyukur).

Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Edi Sumardi
THAMZIL THAHIR
Ilustrasi, laallakum tasykurun (supaya kalian bersyukur). 

Ya, selain melahirkan si unta memberi manfaat baik lain berkesinambungan.

"Siapa yang merasa puas dengan yang sedikit, maka ia akan memperoleh banyak, lebat dan subur”.

Syukur adalah kebaikan terus menerus.

Syukur adalah kondisi baik yang harus dipelihara berulang; dengan komitmen hati (iman), diungkapkan dengan lisan (zikir Alhamdulillah), dan dilaksanakan dengan ibadah perbuatan; terus menerus (shalat, zakat, sadeqah, termasuk puasa).

Kenapa perintah puasa ditujukan kepada orang beriman (mereka yang percaya) dan ta'lamun (punya pengetahuan).

Allah SWT menjanjikan, amalan syukur disertai iman adalah penghalang turunnya siksa Allah di muka Bumi ini.

Syukur jadi perisai hedonisme, melampiaskan keinginan dan jadi serakah.

Puasa mengajarkan untuk menahan mengejar keinginan (hawa nafsu) sekaligus memenuhi kebutuhan duniawi secukupnya.

Krisis atau kesulitan pribadi, komunal, atau bahkan satu bangsa tak akan teratasi dengan beriman dan bersyukur.

"Tidaklah Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman (QS  an-Nisaa: 147).

Bahkan, Allah SWT menjanjikan akan terus menambah kenikmatan itu jika kita pandai mensyukuri nikmat yang sudah diberikan-Nya (QS Ibrahim: 7).

Sayangnya, sedikit sekali dari kita, hamba-hamba Allah, yang pandai bersyukur (QS Saba: 13), sehingga kesusahan dan keresahan kerap menimpa kita.

Dan puasa adalah momen mengatasi keresahan dengan kebaikan berkesinambungan.(*)

Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved