Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

dr Farid Husain Meninggal

JK Temui Kerabat Farid Husain, ‘Saya Titip Anak dan Istri Kalau Terjadi Hal yang Tidak Diinginkan’

dr Langgo Farid menceritakan kondisi mendiang ayahnya menjelang kepergiannya, termasuk pesan dr Farid Husain agar selalu menghormati Pak JK

Editor: AS Kambie
dok.tribun
Jusuf Kalla menemui keluarga Dokter Farid Husain di Makassar, Selasa (30/3/2021). Dokter Farid Husain wafat sepekan sebelumnya, Selasa (23/3/2021) malam. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Pusat Jusuf Kalla mengunjungi keluarga almarhum dr Farid Husain di kediamannya di Kompleks Rumah Sakit Islam Faisal, Jl AP Pettarani, Makassar, Selasa (30/3/2021).

JK datang bersama Solihin Kalla, Imelda Kalla, dan Prof Hamid Awaludin.

Wakil Presiden RI Ke-10 dan Ke-12 itu diterima dr Langgo Farid Husain bersaudara.

dr Langgo Farid menceritakan kondisi mendiang ayahnya menjelang kepergiannya, termasuk menceritakan pesan dr Farid Husain agar selalu menghormati Pak JK sebagai orang tua.

Sebelum ke rumah kediaman dr Farid, Pak JK dan keluarga ziarah ke makam orang tuanya di Pekuburan Arab di Bontoala.

“Ini tradisi dan kebiasaan Pak JK, selalu silaturahmi. Termasuk ziarah ke makam orangtua dan keluarga menjelang Ramadan,” kata Juru Bicara JK, Husain Abdullah.

JK tiba di Makassar Senin (29/3/2021) siang. Tiba di Makassar, JK langsung melakukan pertemuan dengan Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB) di Wisma Kalla membahas bom di pintu pagar Gereja Katedral Makassar sehari sebelumnya.

Sore kemarin, JK dan FKUB juga menyampaikan keprihatinan di Gereja Katedral Makassar dan diterima Monsinyur John Liku Ada.
“Pak JK balik ke Jakarta sore ini,” jar Husain Abdullah, Selasa (30/30/2021) siang.

Kepergian Sahabat
Salah seorang juru runding perdamaian Aceh, dr Farid Husain meninggal dunia di Makassar pada sekitar pukul 21.00 wita Selasa (23/3/2010) malam.
Disebutkan, Dokter Farid Husain dimakamkan tengah malam.

Dokter Farid Husain meninggalkan istri, seorang keturunan Usbekiztan yang dinikahinya setelah istrinya meninggal dunia, dan tiga orang anak.

Tokoh pers versi Dewan pers dan jurnalis senior Sulsel, M Dahlan Abubakar, menulis catatan khusus tentang Dokter Farid Husain dan dimuat Tribun Timur cetak edisi Rabu, 24 Maret 2021.

Menurut M Dahlan Abubakar, Dokter Farid Husain dikenal malang melintang dalam penyelesaikan konflik seperti konflik Poso, Ambon, Aceh, hingga Papua.

Dia lahir di Soppeng, Sulawesi Selatan, 9 Maret 1950. Putra seorang guru, Husain, ini menamatkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (1978) dan meraih gelar Spesialis Bedah di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (1981) dan Spesialis Bedah Digestif di Universitas Hasanuddin (1984).

Almarhum mengawali kariernya sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar (1978-2002), menjabat Direktur Utama Rumah Sakit Islam Faisal Makassar (1995-2002).
Ketika Jusuf Kalla menjabat Menko Kesra, Dokter Farid Husain ditarik sebagai salah seorang stafnya.

Sejak menjadi staf Menko Kesra RI, Dokter Farid Husain mulai terlibat dalam berbagai penyelesaikan konflik di tanah air yang diawali dengan Konflik Poso. Ketika itu dia menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Kesehatan Rakyat Bidang Peran Serta Masyarakat (2001-2002) lalu diangkat sebagai Deputi Menteri Koordinator Kesehatan Rakyat Bidang Koordinasi Kesehatan dan Lingkungan Hidup (2002-2005).

Dokter Farid Husain juga pernah menjabat berbagai posisi penting di antaranya: Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan (2005-2010), Komisaris Utama PT Askes (Persero) dan Utusan Khusus Presiden RI untuk Misi Perdamaian Papua.

Komisaris Independen PT Kimia Farma (Tbk) (2013-2015), menjabat sebagai Komisaris Utama/Komisaris Independen PT Kimia Farma (Tbk) (2015–2018). Sejak tahun 2006 sampai dengan sekarang masih menjabat sebagai Dewan Pengawas Rumah Sakit Wahidin Sudiro Husodo. Sejak tahun 2015 sampai sekarang juga masih menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat PMI Jakarta.
Menteri BUMN Rini Sumarmo (ketika itu) mengangkat Farid sebagai Komisaris Utama Bio Farma pada tanggal 20 April 2018 sampai dengan saat ini.

“Saya memiliki hubungan emosional yang sangat dalam dengan almarhum. Pascakonferensi Perdamaian Konflik Poso, almarhum mengajak saya mengunjungi Tentena Poso. Ketika pembicaraan perdamaian Konflik Ambon, saya pun diajak,” tulis M Dahlan Abubakar.

Bahkan, lanjut M Dahlan Abubakar, Dokter Farid Husain, sempat menyelamatkannya dari jam malam.

“Ketika saya terkurung di wilayah Islam, setelah jam malam “mengharamkan” siapa pun melintasi wilayah kelompok merah saat akan menuju ke rumah jabatan Gubernur Maluku, tempat kami menginap bersama Pak Jusuf Kalla saat itu,” tulis M Dahlan Abubakar.

Namun yang sangat berkesan bagi M Dahlan Abubakar ketika Dokter Farid Husain harus melakukan perjalanan “undercover” (menyamar) bertemu pentolan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh. Dalam suatu perbincangan dengan saya dan kemudian termuat di dalam bukunya mengenai penyelesaian Konflik Aceh, almarhum berkisah kepada saya.

M Dahlan Abubakar juga menukil suatu kejadian antara Jusuf Kalla dengan Dokter Farid Husain.

Menurut M Dahlan Abubakar, suatu saat, JK sempat terhenyak gegara perubahan sikap drastis Dokter Farid Husain.
Dokter Farid Husain tidak pernah bicara seperti itu sebelumnya ke mana pun ditugaskan.

“Pak, saya ada satu permohonan,” tiba-tiba Dokter Farid Husain berkata lantang ke JK dan mengagetkan tokoh itu.
“Apa itu, Rid?’’ kata JK

“Saya titip anak dan istri, kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan dalam perjalanan saya’’ jawab Farid.
“Pasti, Farid,”’ jawab JK mendengar penjelasan Farid Husain.

“Ada apa kamu berkata begitu?’’ JK yang penasaran masih mencari tahu dan khawatir Dokter Farid Husain punya firasat yang kurang baik atas perjalanannya itu.
Dokter Farid Husain hanya menjawab dengan tenang dan santai. Dia katakan, tidak ada firasat apa-apa.

Dialog ini mewarnai saat-saat menegangkan menjelang Farid Husain berangkat ke Aceh. Menemui seorang paling didengar bicara dan perintahnya. Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Sofyan Daud.

Dokter Farid Husain menyampaikan keinginan itu, setelah berkali-kali berkomunikasi dengan Sofyan Daud. Itu atas jasa baik seorang Mahyuddin. Atas bantuan dialah Farid beberapa kali berbicara dengan Sofyan Daud.

Penggalan dialog itu, menurut M Dahlan Abubakar juga merupakan salah satu bagian isi buku “To See the Unseen”, yang ditulis Dokter Farid Husain. Pada halaman 125 di bawah judul ‘’Menemui Panglima GAM di Hutan’’, mungkin merupakan bagian yang paling menegangkan dari buku ini. Farid telah menulis bagaikan seorang wartawan mereportase sebuah perjalanan menyabung nyawa. Perjalanan menuju sarang musuh.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved