Breaking News:

Tetap Keren dengan Baju Bekas, Pilihan Banyak, Barang Impor dan Harganya Terjangkau

Di pasar cakar banyak pakaian yang murah dan berkualitas, yang model ditawarkan tidak kalah dengan barang bermerek.

TRIBUN-TIMUR.COM/DIAN AMELIA
Suasana di sebuah Pasar pakaian di Makassar 

Tetap Keren dengan Baju Bekas, Pilihan Banyak, Barang Impor dan Harganya Terjangkau

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Banyak orang sangat memperhatikan penampilan mereka sehari-hari, sehingga dibutuhkan fesyen yang cocok guna menunjang penampilan serta tetap terlihat Instagramable.

Tak jarang brand pun ikut mempengaruhi pilihan, tetapi kadang harga selangit dari sebuah brand membuat orang harus mencari alternatif lain.

Salah satunya dengan berburu pakaian bekas yang biasanya disebut cap karung atau disingkat Cakar.

Sejumlah pengungsi korban gempa dan Tsunami Palu memilih baju bekas di gudang Makodam Hasanuddin, Makassar, Selasa (17/10). Bantuan tersebut datang dari perusahaan es krim Aice dengan menggunakan tiga mobil box untuk mengangkut bantuan berupa bahan makanan dan baju layak pakai yang diperlukan pengungsi.
Seorang anak sedang memilih-milih baju. (sanovra/tribuntimur.com)

Di pasar cakar banyak pakaian yang murah dan berkualitas, yang model ditawarkan tidak kalah dengan barang bermerek.

Seorang pedagang cakar di pasar Toddopuli bernama Erni mengatakan, walau stok masih terbatas, pakaian cakar seperti gamis, kaos, celana jeans menjadi incaran pembeli dengan harga sangat terjangkau, mulai Rp5 ribu hingga Rp60 ribu saja.

Kisaran harga ini tentu sangat jauh berbeda jika dibandingkan harga baju bermerek yang dijual di toko-toko besar atau pusat perbelanjaan seperti mal.

Erni bilang, selain pakaian, pedagang pasar cakar juga menyediakan sepatu dan tas dengan berbagai merek terkenal seperti HnM hingga Adidas. Ada pula hingga sepatu teplek harga Rp30 ribu saja.

"Jangan anggap pakaian cakar itu tidak bagus, karena yang kita jual itu barang impor mulai dari China, Korea hingga Jepang. Modelnya pun vervariatif seperti kaos, kemeja, gaun. Dan modelnya pun mirip seperti bajunya artis Hollywood, kalau Korea ada yang mirip Jang Geum," ungkap Erni tertawa.

Sembari menambahkan, di tengah terpuruknya perekonomian akibat pandemi, pakaian bekas layak pakai bisa menjadi pilihan untuk dikenakan saat hari-hari besar seperti lebaran atau acara keluarga karena harganya yang lebih murah. "Kualitasnya juga tidak kalah bagus, “ tandasnya. (*)

Pedagang Mulai Go Digital

Erni tak menampik, efek pandemi Covid-19 pada 2020 lalu memang membuat bisnisnya ikut terpuruk. Bahkan penjualan menurun 70 persen.

Tapi bukan berarti menyerah, agar bertahan, ia bersama pedagang lain mulai melakukan penjualan melalui Media sosial (Medsos) atau jejaring digital untuk menawarkan pakaian dagangan.

Salah satu Medsos yang digunakannya adalah aplikasi facebook. “Alhamdulilah dagangan saya perlahan-lahan bisa semakin laris. Saya belajar pakai Facebook dengan anak saya, disitu saya pakai untuk jualan melalui siaran live," pungkasnya. (*)

Penulis: Dian Amelia
Editor: Ilham Mulyawan Indra
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved