Tribun Makassar
Curhat Pedagang Pakaian Bekas Pasar Toddopuli Selama Pandemi, Penghasilan Turun Hingga 70 Persen
Pedagang pakaian bekas atau Cakar di Pasar Toddopuli, Makassar terkena dampak pandemi
Penulis: Dian Amelia | Editor: Suryana Anas
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tak hanya masyarakat biasa yang terkena dampak pandemi Virus Corona atau Covid-19, sejumlah pedagang di pasar tradisional pun turut merasakan hal yang sama, salah satunya yang dirasakan langsung oleh pedagang pakaian bekas atau Cakar di Pasar Toddopuli, Makassar.
Demi bertahan hidup di tengah masa yang serba dibatasi ini, para pedagang cakar tersebut tak hanya dituntut menjaga kesehatan dan keluarganya, tetapi secara tak langsung mereka juga harus berpikir agar dagangan cakarnya tetap laku.
"Dulu masih awal pandemi ini kita terdampak sekali, semuanya dihentikan, bahkan kita juga mau jualan online tidak tahu bagaimana caranya, untuk penuhi kebutuhan hidup terpaksa kita pakai uang tabungan, banyak kegiatan di pasar yang dibatasi setelahnya juga, jadi sangat menurun kira-kira 70 persen pendapatan," ujar Salah satu pedagang cakar, Erni, Senin (22/3/2021).
Tak hanya itu, seiring berjalannya waktu dirinya mengaku menurunnya daya beli masyarakat di tengah pandemi Covid-19 yang kini telah melandai menjadikan pakaian bekas layak pakai sebagai salah satu pilihan untuk dikenakan saat lebaran karena harganya yang lebih murah.
"Kan sempat yah pemerintah itu ada aturan untuk longgarkan kegiatan pasar, disitu baru perlahan mulai rame walaupun kadang cuman 5 orang pembeli tetap kita syukuri saja, asal kita bisa hidupi keluarga, tuturnya.
Meski masih terbatas, pakaian cakar seperti gamis, kaos, celana jeans menjadi incaran pembeli dengan harga sebesar Rp 5 ribu hingga 60 ribu saja.
Selain pakaian, Erni juga menjual sepatu dan tas cakar dengan berbagai merek terkenal seperti, HnM, Adidas hingga sepatu teplek dengan kisaran harga Rp 30 ribu saja, cukup terjangkau kan?
"Jangan anggap pakaian cakar itu tidka bagus, karena yang kita jual itu barang impor mulai dari China, Korea, Jepang, Baju pesat, kemeja, apalagi modelnya mirip seperti bajunya artis Hollywood, kalau Korea ada yang mirip Jang Geum," kata Erni.
Dirinya mengungkap berawal dari pandemi pun tak selamanya membawa dampak buruk tetapi dampak baik pun kian menghampiri yakni ia akhirnya belajar menggunakan media sosial untuk menjual pakaian dagangannya.
ia mengaku semenjak mengenal aplikasi facebook, usahanya pun kian meningkat pasalnya di jaman melek digital ini tak ada yang mengenal aplikasi fenomenal tersebut.
"Saya belajar pakai Facebook dengan anak saya, disitu saya pakai untuk jualan, live dan alhamdulilah dagangan saya perlahan-lahan bisa semakin laris," ucapnya. (*)