Breaking News:

Tribun Luwu Utara

Penanganan Banjir di Luwu Utara Jadi Percontohan Nasional, Warga: Tapi Masih Sering Banjir

Salah satu penanganan yang dilakukan BBWSPJ adalah pembangunan tanggul darurat dengan metode geotextille. 

DOK FTI UMI
Foto aerial pada Senin (20/7/2020), menunjukkan bangunan di Desa Radda, Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara, Sulsel tertimbun lumpur yang telah mengering akibat banjir bandang, Senin (13/8/2020) lalu. Desa Radda merupakan wilayah yang terdampak parah akibat banjir bandang. 

TRIBUNLUTRA.COM, MASAMBA - Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ), Adenan Rasyid mengatakan penanganan pasca banjir bandang di Kabupaten Luwu Utara menjadi percontohan nasional.

"Kami perlu sampaikan bahwa Masamba ini jadi percontohan se-Indonesia untuk penanganan pasca bencana banjir," ucap Adenan baru-baru ini di Masamba.

Salah satu penanganan yang dilakukan BBWSPJ adalah pembangunan tanggul darurat dengan metode geotextille. 

Menurut dia, tanggul geotextille yang dibangun adalah yang pertama di Indonesia dan diikuti beberapa daerah lain yang terkena bencana.

"Banjir di beberapa daerah, seperti di wilayah Jawa Tengah itu, mereka juga membangun tanggul darurat dengan memakai metode perkuatan geotextille. Konstruksinya itu juga pakai geotextille semua. Sama yang kita lakukan di Masamba ini," ujarnya.

Ia mengatakan, penanganan banjir memang harus maksimal karena pemerintah ingin bencana lalu tidak terulang lagi.

"Pak Menteri mengontrol penanganan banjir yang kita lakukan, sehingga penanganan pun harus maksimal," jelasnya.

Plt Kepala Dinas PUPR Luwu Utara, Rusydi Rasyid membenarkan bahwa penanganan banjir di Luwu Utara menjadi acuan daerah lain dalam penanganan darurat. 

"Apa yang dilakukan BBWSPJ, rupanya diikuti oleh balai-balai di wilayah lain dengan pola pembuatan tanggul geotextile. Artinya bahwa Luwu Utara adalah yang pertama menggunakan metode geotextille dalam penanganan darurat pascabencana," tuturnya. 

Sementara itu, sejumlah warga menilai penanganan bajir masih jauh dari harapan masyarakat.

Pasalnya banjir masih kerap terjadi saat intensitas hujan tinggi.

"Saya dengar penanganan banjir di Luwu Utara jadi percontohan nasional, tapi masih sering banjir," kata salah satu warga Masamba, Fahri, Jumat (5/3/2021).

Menurut dia, pemerintah harus bekerja lebih cepat dalam menormalkan kembali kota Masamba dan sejumlah wilayah terdampak lainnya.

"Kondisi Masamba hari ini belum banyak berubah. Bekas material lumpur masih berserakan di mana-mana, aktivitas belum berjalan normal. Begitup dengan wilayah lain seperti Radda dan Malangke," katanya.

Penulis: Chalik Mawardi
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved