Try Sutrisno
Kenal 2 Putra Mantan Panglima ABRI Jenderal Try Sutrisno Sudah Jadi Jenderal di TNI dan Polri
Mantan Wakil Presiden RI sekaligus Panglima ABRI Jenderal (purn) Try Sutrisno punya dua anak jenderal polisi dan TNI yakni Firman Santyabudi dan Kunto
TRIBUN-TIMUR.COM- Mantan Wakil Presiden RI sekaligus Panglima ABRI Jenderal (purn) Try Sutrisno adalah tentara sejati.
Buktinya, anak-anaknya sudah ada menjadi jenderal.
Try Sutrisno mempunyai 7 anak yakni Drg. Nora Tristyana, Taufik Dwi Cahyono, Irjen Firman Santyabudi, Nori Chandrawati, Isfan Fajar Satrio, Kunto Arief Wibowo, dan Natalia Indrasari.
Nora Tristyana adalah mantan ketua umum persit Kartika Chandra Kirana.
Sebab, Nora Tristyana menikahi Kepala Staf Angkatan Darat dari tahun 2002 hingga 2005, Jenderal Ryamizard Ryacudu.
Sementara itu, anak-anak lelakinya berkarir di kepolisian dan TNI AD.
Firman Santyabudi saat ini sudah berpangkat Inspektur Jenderal Polisi.
Firman Santyabudi (55 tahun) adalah seorang perwira tinggi Polri yang sejak 16 November 2020 mengemban amanat sebagai Asisten Logistik Kapolri.
Firman, lulusan Akpol 1988 ini berpengalaman dalam bidang lantas.
Jabatan terakhir jenderal bintang dua ini adalah Kepala Kepolisian Daerah Jambi.
Sementara itu, Brigadir Jenderal Kunto Arief Wibowo Kunto Arief Wibowo, lahir di Surabaya, Jawa Timur , 15 Maret 1971 (49 tahun) adalah seorang perwira tinggi TNI-AD.
Pada 9 April 2020 Kunto memegang jabatan sebagai Kepala Staf Komando Daerah Militer III/Siliwangi.
Kunto, lulusan Akmil 1992 ini dari kecabangan Infanteri.
Sebelumnya, jenderal bintang satu ini menduduki jabatan sebagai Komandan Korem 032/Wirabraja.
Try Sutrisno Berpengaruh Hingga Dari Era Soeharto Hingga SBY
Pada Mei 1998, pada malam jatuhnya Soeharto, Try Sutrisno, bersama dengan Umar Wirahadikusumah dan Sudharmono mengunjungi Soeharto di kediamannya untuk membahas opsi yang memungkinkan.
Pada tahun 1998, Try terpilih menjadi Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri).
Ia berhasil membuat Pepabri bersatu menjadi satu di bawah kepemimpinannya meskipun suasana lazim pada waktu itu setiap cabang dari Angkatan Bersenjata memiliki persatuan purnawirawan mereka sendiri.
Try Sutrisno menyelesaikan masa jabatannya di posisi ini pada tahun 2003.
Try juga menjabat sebagai sesepuh partai untuk partainya Jenderal Edi Sudrajat, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia.
Pada bulan Agustus 2005, Try Sutrisno, bersama dengan Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Wiranto, dan Akbar Tanjung membentuk sebuah forum yang disebut Gerakan Nusantara Bangkit Bersatu.
Forum ini mengkritik pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono atas nota kesepahaman dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Hal ini diikuti pada bulan September 2005 dengan kritik terhadap keputusan Yudhoyono menaikkan harga BBM.
Try Sutrisno agak melunak sikapnya dengan pemerintah setelah pertemuan dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada bulan September 2005.
Kalla dikirim untuk menjelaskan alasan di balik kebijakan yang diambil terhadap GAM dan menaikkan harga BBM.
Pada akhir pertemuan, Try mengatakan bahwa ia dapat memahami posisi pemerintah dan mendorong orang-orang untuk mendukung pemerintah dalam keputusan mereka.(*)