Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Bone

BPS Bone: Pertumbuhan Ekonomi Bone Tahun 2020 Minus 0,25 Persen

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) tahun 2020 menurun drastis dibandingkan tahun 2019.

Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Suryana Anas
TRIBUN-TIMUR.COM/KASWADI ANWAR
Kepala BPS Kabupaten Bone, Yunus 

TRIBUNBONE.COM, TANETE RIATTANG BARAT - Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) tahun 2020 menurun drastis dibandingkan tahun 2019.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bone, Yunus mengatakan, di tahun 2019 pertumbuhan ekonomi Bone diangka 7,01 persen. Di tahun 2020 diangka minus 0,25 persen.

"Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone tahun 2020 minus 0,25 persen. Terjadi konstraksi, ini baru pertama kali terjadi," katanya Senin (1/3/2021).

Tak hanya Bone, bahkan Indonesia pertumbuhan ekonominya minus 2,07 persen. Provinsi Sulsel minus 0,7 persen. Semua ini tak lepas dari faktor pandemi Covid-19 dan beberapa faktor lainnya.

Yunus menyebut, dari 17 sektor lapangan usaha, 9 sektor punya sumbangsih pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Sedangkan 8 sektor mengalami penurunan atau minus.

"Ada 9 sektor yang positif, tapi sumbangsih yang diberikan terhadap PDRB tidak signifikan," sebutnya.

Sektor yang mengalami pertumbuhan tinggi diantaranya, kesehatan dan kegiatan sosial sekira 12 persen, tapi sumbangsihnya hanya 1,02 persen.

Sektor informasi komunikasi 11,63 persen, sumbangsihnya 1,68 persen. Sektor pendidikan pertumbuhan 10,33 persen, sumbangsihnya 2,46 persen.

Sektor kontruksi pertumbuhannya hanya 2,03 persen, tapi sumbangsihnya 10,83 persen.

Sementara sektor yang mengalami penurunan paling tinggi yaitu sektor transportasi dan pergudangan minus 12,39 persen.

Sektor penyediaan akomodasi dan makanan minuman 9,8 persen serta sektor jasa perusahaan 8,71 persen.

Untuk sektor pertanian minus 0,95 persen. Namun, pengaruh terhadap PDRB sangat besar.

"Kecil minusnya, tapi sharenya dalam pembentukan PDRB tinggi sekira 47 persen. Jadi sedikit saja berubahnya, maka berpengaruh sangat besar," ucap Yunus.

Lalu sektor perdagangan besar dan eceran minus 2, 92 persen. Namun, sharenya 12,21 persen.

"Di sektor ini daya beli turun. Contohnya, pembelian motor biasanya 100 unit, kini hanya 30 unit saja," bebernya.

Yunus menerangkan, pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 terjadi kontraksi karena faktor pandemi Covid-19. Kebijakan pemerintah mengedepankan kesehatan masyarakat.

"Pada dasarnya kebijakan yang diambil sangat berpengaruh, seperti PSBB. Transportasi tidak bisa keluar masuk. Masyarakat diminta tinggal di rumah," terangnya.

Laporan Wartawan TribunBone.com, Kaswadi Anwar

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved