Breaking News:

Tribun Mamasa

Tersangka Pengadaan Sejuta Bibit Kopi di Mamasa Kembalikan Kerugian Negara Rp 1.1 Miliar

Tersangka kasus korupsi pengadaan bibit kopi Mamasa Ir Donatus Marru melakukan pengembalian dana sebesar Rp 1.166.808.870

TRIBUN-TIMUR.COM/NURHADI
Kajati Sulbar Johny Manurung pimpin pres rilis pengembalian dana kerugian negara oleh tersangka kasus korupsi pengadaan 1.000.000 bibit kopi di Kabupaten Mamasa. Pres rilis berlangsung di kantor Kejati Jl RE Marthadinata, Kelurahan Simboro, Mamuju.(nurhaditribun) 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAMUJU -- Tersangka kasus korupsi pengadaan bibit kopi di Dinas Pertanian, Perkebunan dan Holtikultura, Kabupaten Mamasa, Sulbar pada tahun 2015, Ir Donatus Marru, melakukan pengembalian dana sebesar Rp 1.166.808.870,-.

Diketahui, nilai kontrak pengadaan bibit kopi pada Dinas Pertanian, Perkebunan dan Holtikultura Kabupaten Mamasa, sebesar Rp. 8.985.000.000,- (delapan Milyar sembilan ratus delapan puluh lima juta rupiah) dengan item pekerjaan berupa Pengadaan Bibit Kopi sebanyak 1.000.000 (satu juta) batang jenis kopi Arabika dan Robusta.

Kejati Sulbar Johny Manurung, pengadaan tersebut .elalui mekanisme lelang yang yang tidak sehat, PT Supin Raya yang Direktur Utamanya adalah tersangka Ir. Donatus Marru ditetapkan sebagai pemenang.

"Komposisi rincian pengadaan serta jenis kopi, seharusnya diperoleh dari informasi lelang pada saat anwijzing, namun kenyataannya tersangka memperoleh informasi tersebut bukan melalui mekanisme yang sah sebagai peserta tender. Pada saat mengikuti pelelangan,"ungkap Johny Manurung saat konferensi pers di kantor Kejati Sulbar, Jumat (26/2/2021).

Dikatakan, tersangka mendapatkan bocoran dari Murnianto, SP selaku PPK (diajukan dalam berkas perkara terpisah) mengenai rincian presentase volume bibit kopi untuk masing-masing jenis bibit kopi, yaitu Robusta 300.000 batang dan Arabika 700.000 batang.

"Jenis bibit kopi yang akan diadakan yang sebelumnya tercantum dalam KAK dan HPS, tiba-tiba oleh Murnianto, (PPK) meminta Tim Pokja untuk menggantinya menjadi jenis bibit kopi Somatic Embriogenesis (SE) pada summary report lelang LPSE, pada saat dilakukan anwijzing lelang pengadaan bibit kopi,"katanya.

Dalam membuat dan menetapkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS), kata dia, Murnianto, membuatnya dengan cara tidak sesuai ketentuan. Dimana harga tersebut bersifat umum yang diberlakukan kepada pihak swasta.

"Padahal terhadap pengadaan Planlet yang didanai dengan dana pemerintah (APBN dan APBD) mendapatkan potongan harga dengan selisih Rp. 1.000,- per bibit, sehingga perbuatan Murnianto, SP sebagai PPK tersebut menguntungkan tersangka,"jelasnya.

Dalam pelaksanaan kegiatan, lanjutnya, tersangkalah yang mengurus segala sesuatunya mewakili PT. Supin Raya, pada akhir pelaksanaan pekerjaan, meskipun Pengadaan Bibit Kopi Kegiatan Perluasan Tanaman Kopi sebanyak 1.000.000,- (satu juta) batang, sebagian belum didsitribusikan kepada Petani, untuk menutupi kesalahannya.

"Tersangka meminta kepada Murnianto, SP selaku PPK agar dilakukan addendum, dan pembayaran dilakukan sebesar 100 % kepada PT. Supin Raya pada tanggal 21 Desember 2015,"ungkapnya.

Berdasarkan penghitungan kerugian negara dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan Perwakilan Propinsi Sulawesi Barat, dalam Pengadaan bibit kopi kegiatan perluasan Tanaman Kopi pada Dinas Pertanian, Perkebunan dan Hortikultura Kabupaten Mamasa Tahun Anggaran 2015, negara mengalami kerugian kurang lebih sebesar Rp. 1.166.808.870,00.

"Tersangka melanggar Pasal : Pasal 2 ayat (1) Sub Pasal 3 UU No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan TPK Jo Undang-Undang No.20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP," tutur Johny. (tribun-timur.com)

Penulis: Nurhadi
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved