Breaking News:

Khazanah Sejarah Islam

Sultan Pagaruyung dari Minangkabau Datuk Mahkota Penyebar Islam Pertama di Sulsel Yang Terlupakan

Sayang sekali makam Dato Mahkota di Sanrobone sangat tidak terawat. Tak menggambarkan bahwa makam itu adalah makam seorang reja dan ulama besar

Editor: AS Kambie
Courtesy: Suwadi Idris Amir
Makam Dato Mahkota di Bontoa, Sanrobone, Takalar, seperti diabadikan pada Senin, 22 Februari 2021. 

* Kemudian Muminah mempersuamikan Ince Gali dengan memiliki 5 (lima) orang anak, yakni  Kare Capa, Kare Kulle, Sitti Memunah, Kare Siang, dan Kare Tojeng.

* Kare Tojeng mempersuamikan Kare Jallang (Kare Jalla) memiliki anak 5 (lima) orang, yakni  Kare Mangasai, Kare Pole, Kare Poto, Kare Sittin, dan Kare Baluru.

* Kemudian Kare Baluru mempersuamikan Kare Jarre, memiliki anak 9 (Sembilan) orang yakni Abdul Rahim, Muhammad Jafar, Hasan, Huseini, Ali, Sabiba, Aminah, Adam Muhammad, dan Japarah. * Japarah memperistrikan Kare Tongngi Binti Kare Pole, memiliki anak 4 (empat) orang yakni Halimah Daeng Ratu, Hayawani Daeng Kenna, Marhumah Daeng Calla, Samaila Daeng Ma’ Bate.

* Kemudian Samaila Daeng Ma’bate memperistrikan  seorang anak Gallarang Balang yang bernama Saleha Daeng Nurung, memiliki anak 6 (enam) orang yakni I Minalalang Daeng Kenna, I Nali Daeng Tonji, I Yoho Daeng Siang, Sitti Daeng Puji, Yumma Daeng Sanga, dan Abubakar Daeng Lau.

* Kemudian Abubakar Daeng Lau mempersistrikan Mu’minah Daeng Mami, memiliki anak yakni Kadirong Laeng Massa, Minolla Daeng Nirrang, Timang Daeng Puji, dan Manggaukang Daeng Bombong.

* Manggaukang Daeng Bombong memperistrikan Jawa Daeng Te’ne, melahirkan anak yakni Rahmatiah Daeng Rampu, Muhana Daeng Senga, Abdullah Daeng Suro, Paimatolla Daeng Kenna, dan Syamsu Daeng Lau, Sohoroh Daeng Bau, Kio Daeng Naja, Yoho Daeng Siang, dan Kulujung Daeng Rani.

Itulah silsilah keturunan Dato Mahkota Sultan Pagaruyung di Kerajaan Sanrobone hingga Sulawesi Selatan.

Dibantu Syekh Muhyiddin Umar Al Aidid, Dato Mahkota juga lah yang mengundang datang dari Minangkabau Datuk Ri Bandang, Datuk Di Tiro, dan Datuk Patimang untuk membantu menyebarkan Islam di Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo awal abad ke-16.

Walaupun Dato Mahkota dan Syekh Muhyiddin Umar Al Aidid baru mampu yakinkan Raja Tallo dan Raja Gowa masuk islam pada tahun 1605, namun Dato Mahkota sudah menyebarkan ajaran Islam di kawasan Kerajaan Tallo di sejak tahun 1546.

Hingga akhir hayatnya, Dato Mahkota tetap mukim di Kerajaan Sanrobone. Dato Mahkota dimakamkan Dusun Bontoa, Sanrobone.

Sayang sekali, makam Makam Dato Mahkota sangat tidak terawat. Makamnya tidak menggambarkan sebagai seorang raja, ulama, dan penyebar Islam yang sangat berjasa.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved