Breaking News:

Tribun Kampus

Fakultas Kehutanan Unhas Bahas Ekologi Politik

Hadirnya kegiatan ini diharapkan menjadi ruang belajar untuk pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang kehutanan dan lingkungan hidup.

TRIBUN TIMUR/RUDI SALAM
Fakultas Kehutanan Unhas melalui Forest and Society bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan UGM menggelar kuliah umum, Senin (22/2/2021). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui Forest and Society bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada dan beberapa mitra lainnya menyelenggarakan kuliah umum, Senin (22/2/2021).

Acara tersebut bertajuk "Environment, Development and Governance In Indonesia: Theories, Issue and Trends" dengan mengusung tema "What Is Political Ecology?".

Kegiatan ini menghadirkan Prof Krisnawati Suryanata dari Universitas Gadjah Mada selaku narasumber berlangsung secara virtual melalui aplikasi zoom meeting dan terhubung secara live melalui kanal Youtube Forest and Society.

Prof Ahmad Maryudi sebagai salah satu tim editor FS menjelaskan kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Unhas dan UGM yang sudah lama direncanakan.

Hadirnya kegiatan ini diharapkan menjadi ruang belajar untuk pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang kehutanan dan lingkungan hidup.

Prof Krisnawati yang merupakan seorang ahli ekologi menjelaskan secara umum mengenai Ekologi Politik sampai pada contoh kegunaan ekologi politik dalam menganalisis permasalahan sumber daya alam.

Mengawali materinya, ia menjelaskan tentang dasar pengetahuan yang dimiliki mulai dari pembelajaran ilmu tanah tahun 1970-an.

Setelah menyelesaikan bidang ilmu tanah, kemudian melanjutkan dengan mempelajari interpretasi foto udara dan penginderaan jauh serta mengenal ekologi pertanian yang memiliki cakupan lebih luas.

Prof Krisnawati mengatakan bahwa ekologi politik merupakan penggabungan dari ekologi dengan ekonomi politik yang membandingkan berbagai penjelasan mengenai perubahan ekologi.

"Misal permasalahan erosi tanah, jika dilihat secara konvensional penyebab langsung seperti curah hujan, kecuraman lereng, hingga kurang pengetahuan," katanya via rilis.

Namun, jika dilihat dari ekologi politik, akar permasalahan ini terjadi karena salah satunya kurang tenaga kerja hingga pengawetan tanah yang tidak menguntungkan.

Untuk menjadi seorang ahli ekologi politik, Prof Krisnawati menggabungkan pengetahuan teknis dengan wawasan dari ekonomi politik, untuk pendekatan yang lebih holistik dalam memahami pengelolaan sumber daya alam dan proses perubahan agraria.

“Analisis ekologi politik selalu berbicara tentang skala yang menelusuri faktor penyebab di luar lingkungan setempat, juga sangat peka terhadap warisan sejarah dengan memahami asal usul struktur ekonomi politik dan norma yang berlaku," jelasnya.

"Tidak hanya itu, akses dan politik formal informal juga menjadi bagian dalam menganalisis ekologi politik,” sambungnya.

Kegiatan yang juga dihadiri oleh editor Forest and Society ini diikuti kurang lebih 200 peserta.

Penulis: Rudi Salam
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved