Breaking News:

Ekonom Unhas: Emiten Rokok Masih Tertekan Akibat Kenaikan Cukai Rokok

Industri Hasil Tembakau (IHT) menjadi salah satu industri yang terpukul oleh adanya Covid-19

ISTIMEWA
Pengamat Ilmu Ekonomi Universitas Hasanuddin, Dr H Abdul Hamid Habbe SE MSi 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Industri Hasil Tembakau (IHT) menjadi salah satu industri yang terpukul oleh adanya Covid-19.

Selain itu, kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok sebesar 12,5 persen yang diterapkan mulai Februari 2021 turut memperberat kinerja emiten rokok.

Pengamat Ilmu Ekonomi Universitas Hasanuddin, Dr H Abdul Hamid Habbe SE Menjelaskan ,secara fundamental emiten-emiten rokok terutama pemain besar tertekan cukup dalam akibat kenaikan cukai rokok.

"Memang seluruh emiten yang ada di bursa efek termasuk perusahaan rokok itu termasuk kategori Bluechip mungkin memang tertekan tetapi dengan turunnya suku bunga, emiten perbankan yang tergabung di bursa efek itu akan memicu Price to Book Value akan meningkat, karena dengan turunnya ini maka dana dari bank pihak ketiga yang selama ini mengendap bisa terealisir atau terdistribusi ke masyarakat dan itu menjadi keuntungan bagi perbankan," ujarnya Senin(22/2/2021).

"Dengan tingginya perputaran dana pihak ketiga ini akan memicu harga perbankan saham naik sehingga Price to Book Value akan naik," tambahnya.

Tak hanya itu, ia juga menambahkan jika dengan menabung di bank dengan suku bunga rendah atau menabung dengan investasi yang menjanjikan riten lebih tinggi menjadi salah satu ancaman resiko bagi perbankan.

"Kita tahu bahwa riten-riten dari investasi yang ada itu juga relatif sama di era sekarang ini artinya kalau misalnya investor memilih membeli saham-saham tertentu, kendati demikian tentu juga tidak memberikan jaminan yang bisa mendatangkan riten lebih baik dibanding ketika menabung di bank, jadi memang terjadi pertarungan bagi investor pemodal apakah menyimpan uangnya di bank dengan riten dan suku bunga yang rendah atau memilih investasi di pasar modal," jelasnya.

Alih-alih demikian,menurut pandangannya bursa efek ini akan naik, menjadi saham yang akan bagus di masa akan datang,khususnya perbankan.

"Tentunya jika investor melihat dana pihak ketiga menumpuk di bank kemudian distribusi ke masyarakat rendah tentu ritennya akan rendah, nah dengan adanya suku bunga turun ini maka dana volume jauh lebih besar dan bisa memancing reaktif bagi investor untuk membeli saham-saham dari perbankan ini," pungkasnya. (*)

Penulis: Dian Amelia
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved