Breaking News:

Tribun Wajo

Ahli Waris Persoalkan Lapangan Sepakbola di Tanasitolo Wajo Dibanguni Pasar

Setelah dilakukan pengukuran ulang, tanah yang diklaim milik Pemkab Wajo tidak masuk dalam objek sertifikat.

TRIBUN TIMUR/HARDIANSYAH
Kelompok ahli waris tanah yang saat ini dibanguni pasar di Kelurahan Pincenhpute, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, saat melakukan unjuk rasa di Kantor Bupati Wajo, Senin (22/2/2021) sore. 

TRIBUNWAJO.COM, SENGKANG - Sebuah lapangan sepak bola di Kelurahan Pincengpute, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo dibanguni pasar sekitar 2014 silam.

Sayangnya, lahan tersebut bermasalah. Seorang warga bernama Abdul Hamid mendaku bahwa tanah itu dipinjampakaiankan ke pemerintah sebagaimana mestinya, lapangan sepakbola.

Pemerintah Kabupaten Wajo pun digeruduk oleh masyarakat yang mengklaim sebagai ahli waris tanah tersebut, Senin (22/2/2021) sore.

Kuasa hukum Abdul Hamid, Rahmat Amahoru, mengatakan agar Pemkab Wajo segera mengembalikan tanah milik Abdul Hamid yang sebelumnya di pinjam pakai oleh Pemkab Wajo untuk dijadikan lapangan sepak bola.

Permasalah kian runyam, ketika ahli waris menemukan tanah tersebut dibanguni pasar, dan telah bersertifikat atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Wajo. Selain itu, ada oknum anggota DPRD Wajo yang datang "melobi" Abdul Hamid untuk melepas tanahnya dengan iming-iming 6 kios di pasar itu.

"Kami heran kenapa tiba-tiba muncul sertifikat atas nama Pemkab Wajo, ini sudah termasuk penyerobotan tanah milik warga. Pernah juga ada anggota DPRD mendatangi klien kami, dengan janji 6 los di pasar," katanya.

Objek tanah dalam sertifikat milik Pemkab Wajo hanya seluas 8.297 meter persegi. Setelah dilakukan pengukuran ulang, tanah yang diklaim milik Pemkab Wajo tidak masuk dalam objek sertifikat.

"Tanah Pemkab luasnya hanya 8.297 meter persegi, kalau diukur dengan tanah milik Abdul Hamid luas lahannya 8.797 meter persegi, selisih itu milik Abdul Hamid. Namun sayangnya, akibat kelalaian itu, klien kami Abdul Hamid tergusur," katanya.

Sebenarnya, bukan kali pertama soalan ini dimunculkan di permukaan. Pihak ahli waris juga sudah membawa permasalahan tersebut ke DPRD Wajo, bahkan hingga tingkat rapat dengar pendapat (RDP). Sayangnya, tak ada hasil dari penyampaian aspirasi itu.

Kepala Seksi Pengendalian dan Penanganan Sengketa Badan Pertanahan Nasional (BPN) Wajo, Mirna mengatakan, berdasarkan sertifikat milik Pemkab Wajo, tanah milik Abdul Hamid tidak masuk dalam objek milik Pemkab Wajo.

"Kalau berdasarkan sertifikat, memang tanah milik Abdul Hamid tidak masuk dalam objek sertifikat milik Pemkab Wajo, namun untuk memastikan hal tersebut alangkah baiknya jika kita turun bersama melihat dan melakukan pengukuran objek lahan yang dipersoalkan," katanya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Wajo, Amiruddin yang menerima kedatangan masyarakat Kelurahan Pincengpute menyoal tanah itu, mengatakan akan mencarikan solusi terbaik atau win-win solution.

"Kami tidak mau ada pihak yang dirugikan, mari kita selesaikan permasalahan ini dengan kepala dingin, semoga kita semua mendapatkan petunjuk agar permasalahan ini dapat selesai dengan baik," katanya.

Rencananya, peninjauan serta pengukuran akan dilakukan Selasa (23/2/2021) besok. Tentunya dengan melibatkan seluruh pihak, baik Pemerintah Daerah Kabupaten Wajo, BPN Wajo, serta pihak ahli waris yang mengklaim lahan di pasar tersebut.

Penulis: Hardiansyah Abdi Gunawan
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved