Breaking News:

Tribun Film

Cerita Dibalik Film De Toeng Misteri Ayunan Nenek

Asmin Amin mengatakan tujuan diadakannya konferensi pers yaitu mengajak masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Sulsel

TRIBUN TIMUR/DIAN AMELIA
Turatea Pictures yang memproduksi film De Toeng Misteri Ayunan Nenek, menggelar konferensi pers. 

TRIBUN-TIMUR.COM,MAKASSAR - Para pemain film De Toeng Misteri Ayunan Nenek menggelar konferensi pers di salah satu warkop Kopizone Jl Boulevard, Minggu (21/2/2021).

Turatea Pictures milik Asmin Amin seorang budayawan dan politisi Makasar menggandeng Kartika Waode Sari dan Sean Hasyim untuk membuat film cerita horor De Toeng Misteri Ayunan Nenek.

Asmin Amin mengatakan tujuan diadakannya konferensi pers yaitu mengajak masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Sulsel agar terketuk hatinya untuk menonton film De Toeng Misteri Ayunan Nenek.

" Untuk yang belum nonton, mari kita bersama ke bioskop nonton ini film dan diharapkan juga kita semua dapat berkontribusi bagi kemajuan industri perfilman," ujarnya,

Ia menjelaskan jika film De Toeng Misteri Ayunan Nenek bergenre thriller horor ini mengangkat budaya dan cerita rakyat Jeneponto.

Garis besar cerita Film De Toeng berkisah tentang dokter muda yang ditugasi di daerah pelosok, kepala dusun menempatkannya di Villa Bukit Toeng

Setiap malam anaknya bangun tengah malam dan ngobrol sendiri di Villla Bukit Toeng. Ibunya bertanya ke sang anak, anaknya jawab ada “nenek” jadi ceritanya si anak mampu melihat sosok penampakan Nenek Toeng Royong

" Di daerah ini, ada mitos seorang nenek baik hati, yang sering mendendangkan lagu pengantar tidur kepada anak dan cucunya di ayunan,"tuturnya.

Uniknya rumah dipakai sebagai lokasi syuting di bukit Toeng adalah villa milik wakil bupati Jeneponto, Mulyadi Mustamu.

Penggarapan Film De Toeng dilakukan sejak April 2018 oleh sutradara Bayu Pamungkas dan kru langsung disambut peristiwa mistik sejak awal.

" Sebelum pengambilan gambar kami sempat melakukan ritual barasanji di Villa Bukit Toeng, Kampung Tanetea, saya sendiri melakukan komunikasi dengan Nenek Toeng melalui mediator seorang kru," ucapnya.

" Kami pun diberi syarat sebelum memulai garapan film ini seperti sutradaranya harus yang rajin sholat, setiap kru hingga pemain yang terlibat diwajibkan sholat berjamaah minimal di waktu magrib dan subuh, inilah yang menjadi persyaratan nenek Toeng," tambahnya.

Penulis: Dian Amelia
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved