Breaking News:

Tribun Bisnis

Ekonom: Relaksasi PPNBM Bisa Dongkrak Industri Manufaktur

menurutnya situasi tahun ini diharapkan jika Covid-19 sudah bisa teratasi terutama dalam proses vaksin dengan harapan bahwa roda ekonomi

dok kompas.com
Dr Hamid Paddu, Dosen FE Unhas 

TRIBUN-TIMUR.COM,MAKASSAR - Dalam upaya Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada masa pandemi COVID-19, pemerintah terus mendorong industri manufaktur.

Industri otomotif merupakan salah satu sektor manufaktur yang terkena dampak pandemi COVID-19 paling besar. Untuk meningkatkan pembelian dan produksi Kendaraan Bermotor (KB), maka pemerintah akan memberikan insentif fiskal berupa penurunan tarif PPnBM untuk kendaraan bermotor.

Menurut Pengamat Ilmu Ekonomi Unhas , Prof Dr  H Abdul Hamid Paddu SE MA, kebijakan ini sebagai upaya memberi stimulus agar ekonomi berputar dalam situasi pandemi, sebab ketika situasi masih pandemi, mobilitas bergerak ke penduduk masih relatif terbatas.

" Nah karena pergerakan manusianya masih terbatas sehingga dari tahun sebelumnya , maka permintaan akan barang-barang kebutuhan yang sifatnya barang sekunder maupun barang tahan lama termasuk barang mewah, otomatis menurun karena sekarang orang kan tidak banyak jalan sehingga membeli barang tertentu diturunkan niatnya atau ditahan dulu oleh masyarakat," ujarnya Selasa (16/2/2021).

Tak hanya itu, menurutnya situasi tahun ini diharapkan jika Covid-19 sudah bisa teratasi terutama dalam proses vaksin dengan harapan bahwa roda ekonomi bisa berputar khususnya terhadap barang -barang yang tahan lama.

" Kegiatan ekonomi di industri manufaktur ini banyak sekali lapangan pekerjaannya, kalau ini tidak berputar akan menambah jumlah pengangguran dan jaraknya makin luas kepada daya beli, jadi dengan penurunan ini sampai 0 persen, itu berarti akan menurunkan harga, dampak pada harga yang diturunkan PPNBM nya tersebut," tuturnya.

Adapun dampanya jika dilihat dari angka elastisitas barang, maka dari beberapa penelitian sebelumnya yang terancam adalah barang dasar kebutuhan lainnya,yang elastisitasnya relatif lebih rendah.

Kendati demikian, pergerakan harga berubah tidak banyak menyebabkan permintaan meningkat, namun jika  dilihat elastisitas khusus barang kendaraan bermotor cukup tinggi mencapai 1,16 persen.

" Artinya kalau pergerakan harga barang mewah khusunya bermotor akan mendorong permintaan dan masyarakat akan membeli, tentu dengan asumsi bahwa masyarakat sudah ada insentif bergerak, dengan jaminan mendapay insentif dari pemerintah, maka saya kira ini akan mendorong permintaan akan barang mewah meningkat, dan ini yang akan berdampak bagaimana ekonomi akan terstimulasi dengan baik," ucapnya.

Penulis: Dian Amelia
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved