Breaking News:

Fatayat NU Peduli Beri Layanan Psikologi Ibu dan Anak Penyintas Gempa Mamuju

Fatayat NU sebagai banom NU bertugas untuk menjalankan kebijakan NU termausk penanganan gempa di Sulbar.

TRIBUN TIMUR/NURHADI
Pengurus dan kader Fatayat NU Sulbar melakukan pelayanan psikologi atau trauma healing kepada anak-anak dan ibu-ibu penyintas gempa bumi magnitudo 6.2 SR di lokasi pengungsian Desa Pasada Mamuju. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAMUJU -- Fatayat NU Peduli melakukan trauma healing atau layanan psikologi ke para penyintas gempa bumi Sulbar di lokasi pengungsian Dusun Pasada, Desa Botteng Utara, Mamuju, Minggu (7/2/2021).

Sekertaris Fatayat NU Sulbar, Imelda Adiyanti mengungkapkan, Botteng Utara menjadi salah satu desa di Mamuju yang mengalami dampak parah akibat gempa bumi magnitudo 6.2 SR yang terjadi pada 15 Januari.

"Hal ini mengakibatkan banyak kepala keluarga yang harus tinggal di tenda pengungsian,"kata Imelda kepada Tribun-Timur.

Menurutnya, anak-anak dan kaum ibu termasuk golongan yang sangat merasakan dampak dari kebencanaan sehingga perlu mendapatkan penanganan khusus dukungan psikososial.

Menurut Imelda, Fatayat NU sebagai banom NU bertugas untuk menjalankan kebijakan NU termausk penanganan gempa di Sulbar. Layanan dukungan Psikososial menjadi pilihan  Fatayat NU Sulbar dalam menjalankan tugas kerelawanan di masa transisi darurat ke pemulihan bencana gempa bumi di Sulbar.

“Yah, Fatayat NU adalah organisasi sosial kemasyarakatan dan selalu hadir untuk memperjuangkan bangsa termasuk anak dan perempuan. Kami memilih Botteng Utara, khususnya di Pasada ini karena kami mendengar bahwa untuk layanan dukungan psikososial yang menyentuh anak-anak dan perempuan itu belum ada sama sekali. Itulah sebabnya kami kesini dengan semangat agar anak-anak tetap ceria dan kaum ibu tetap bahagia,"tuturnya.

Dengan tetap memperhatikan protocol kesehatan, layanan dukungan psikososial  Fatayat NU Sulbar menyasar 100 orang anak dan ibu.

"Metode yang kami gunakanbagak berbeda dengan lainnya. Klo untuk anak-anak kami menggunakan pendekatan bermain tradisional, harapannya agar anak-anak tidak kehilangan masa-masa indahnya walaupun ada di tenda pengungsian,"ucapnya.

Kepada anak-anak, lanjut Imelda, juga lakukan observasi untuk mengidentifikasi jika ada anak yang mengalami shock berat sehingga tidak dapat bersosialisasi.

"Sementara itu untuk kaum ibu, kami  arahkan hati, tubuh dan jiwa mereka untuk selalu rileks dan bahagia dengan metode progresif relaksasi,"tambahnya.

Imelda yang juga adalah hipnoterapis professional di Prahipti Sulbar menambahkan dengan metode progresif relaksasi maka kaum ibu dapat mengontrol  stress dan mengikis kecemasan yang telah dialami akibat gempa di Sulbar.

Penulis: Nurhadi
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved