Breaking News:

Pilpres Amerika Serikat

Presiden ke-6 SBY Bahas Transisi Kekuasaan Dibarengi Luka, Kebencian Hingga Permusuhan

Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono meng-twit di akun twitternya soal Transisi Kekuasaan Dibarengi Luka, Kebencian dan Permusuhan.

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES
Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono. 

TRIBUN-TIMUR.COM- Pemenang Pilpres Amerika Serikat, Joe Biden bakal dilantik, Rabu (20/1/2021) waktu setempat.

Mantan Wakil Presiden era Barack Obama ini akan menjadi presiden Amerika Serikat ke-46.

Adalah Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono menanggapi pelantikan Joe Biden.

Mantan Ketua DPP Partai Demokrat itu menyampaikan di akun twitternya, @SBYudhoyono. 

Dalam twit ini, ada delapan poin yang disampaikan Susilo Bambang Yudhoyono

Berikut twitnya yang disebarkan, pagi ini. 

Dalam pandangan SBY, kedua era "post-truth politics", ucapan pemimpin (presiden) harus benar & jujur.

"Kalau tidak, dampaknya sgt besar. Ucapan Trump bhw pilpresnya curang (suaranya dicuri) timbulkan kemarahan besar pendukungnya. Terjadilah serbuan ke Capitol Hill yg coreng nama baik AS," tulis SBY. 
 
Ketiga, "post-truth politics" (politik yg tdk berlandaskan pada fakta), termasuk kebohongan yg sistematis & berulang, pada akhirnya akan gagal.

"Pemimpin akan kehilangan "trust" dari rakyatnya, krn mereka bisa bedakan mana yg benar (faktual) dgn yg bohong (tdk faktual)," lanjutnya lagi. 
 
Keempat, tiap pemilu ada yg menang, ada yg kalah. Meskipun berat & menyakitkan, siapapun yg kalah wajib terima kekalahan & ucapkan selamat kpd yg menang. Itulah tradisi politik & norma demokrasi yg baik. Sayangnya, sbg champions of democracy, ini tdk terjadi di AS skrg. 
 
Kelima, kali ini pergantian kekuasaan yg damai (smooth & peaceful) tak terjadi di AS. Transisi kekuasaan dibarengi luka, kebencian & permusuhan. Ini petaka bagi AS yg politiknya terbelah (deeply divided). Energi Biden bisa habis utk satukan AS hadapi tantangan ke depan. 
 
Keenam, jelang pelantikan Biden, Washington DC mencekam, banyak barikade & dlm pengamanan ketat 25.000 tentara. Siapa ancamannya ? Kali ini bukan musuh dr luar, spt biasanya, tapi "teroris domestik". Ini titik gelap dlm sejarah AS. Juga warisan buruk yg ditinggalkan Trump. 
 
Ketujuh, setiap krisis selalu ada pahlawannya. Saya respek kpd Wapres Mike Pence yg tunjukkan karakter kesatrianya dgn menerima hasil Pilpres yg lalu meskipun kalah. Dia tolak “perintah” Trump utk ubah hasil pemilu krn tak berdasar. Dia hormati konstitusi & demokrasi. 
 
Kedelapan, Pence bukan tipe yg haus kekuasaan. Dia tak memanfaatkan kesempatan utk ambil alih kepemimpinan meskipun diminta secara resmi oleh DPR AS (sesuai amandemen ke-25 konstitusi AS). Pence menolak, karena bukan itu yg terbaik bagi bangsa AS. 

Joe Biden Hadapi Bencana 

Halaman
123
Editor: Muh Hasim Arfah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved