Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Wiki

Aiptu Indrawan, Lulusan Pasukan Elit Kepolisian Penjaga Ketertiban 11 Ribu Jiwa di Makassar

Aiptu Indrawan, Lulusan Pasukan Elit Kepolisian Penjaga Ketertiban 11 Ribu Jiwa di Makassar

Penulis: Muslimin Emba | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM/MUSLIMIN EMBA
Bhabinkamtibmas Sambung Jawa, Aiptu Indrawan berfoto di halaman rumahnya di Perumahan BTN Bumi Asri Barombong, Makassar. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kenalkan, Aiptu Indrawan. Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Kelurahan Sambung Jawa, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Aiptu Indrawan mengawali kariernya di pasukan elit kepolisian pada Tahun 1997. Tepatnya, Angkatan XV SPN Batua Dasba 6000 Brimob.

Lebih kurang empat tahun, Indrawan menyandang baret biru Satuan Brimob Polda Sulsel 1997-1999 dan Batalyon A Brimob Pabaeng-Baeng 1999-2001.

Dalam kurun waktu empat tahun itu, Indrawan mendapat segudang pengalaman.

Mulai dari tugas dalam kota hingga ke daerah operasi konflik. Tepatnya, konflik di Kota Ambon Januari 2001 dan Poso Mei 2001.

Suasana di dua daerah berkonflik itu dirasakan Indrawan yang menjadi bagian dari petugas keamanan.

Menurutnya, penugasan operasi di dua daerah berbeda tersebut adalah pengalaman berkesan selama menjadi abdi Bhayangkara, khususnya di pasukan Brimob.

"Pengalaman tugas yang berkesan ketika semasa di Brimob, tugas di daerah konflik. Ada rasanya kekompakan dan kebersamaan dalam suka dan duka," kata Indrawan kepada tribun-timur.com, Rabu (13/1/2021) siang.

"Padahal setiap waktu nyawa taruhan dan semua pihak bertikai  bisa kita rangkul sehingga ada rasa terharu ketika ada perpisahan. Karena sudah terjalin persaudaraan dan persahabatan dengan akrab," lanjutnya.

Selepas dari Brimob, Indrawan muda pun dipindahkan ke Kepolisian Resor Kota Besar Makassar, yang saat itu masih bernama Polwiltabes Makassar 2001.

Di Polwiltabes, ia bertugas sebagai polisi pariwisata lebih kurang lima tahun.

Tepat pada Tahun 2006, ia dipindahkan lagi di kantor yang sama namun satuan berbeda.

Tepatnya, di Satuan Binmas (Bina Masyarakat) Polwiltabes Makassar (2006-2015).

Sekitar sembilan tahun lamanya, Indrawan ditempatkan di satuan Pembina Masyarakat itu.

Dan dari situ, ia pun diberi tanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di satu kelurahan sebagai Bhabinkamtibmas.

Pengalaman pertama sebagai Bhabinkamtibmas disandang Indrawan di kelurahan Parang, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar.

Dalam kurun dua tahun (2015-2017), Aiptu Indrawan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat Kelurahan Parang.

Dua tahun di Kelurahan Parang, Aiptu Indrawan dipindahtugaskan lagi.

Posisinya sama, Bhabinkamtibmas, namun di kelurahan berbeda. Tepatnya di Kelurahan Sambung Jawa, Kecamatan Mamajang, Selatan kota Makassar.

Di kelurahan Sambung Jawa, ayah dua anak itu diberi tanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban warga berpenduduk 11 ribu jiwa.

11 ribu jiwa warga Kelurahan Sambung Jawa itu tersebar di 46 Rukun Tetangga (RT) dan sembilan Rukun Warga (RW).

Segala bentuk aktivitasnya dipantau atau dimonitor oleh Aiptu Indrawan.

Bukan tugas yang ringan, menjaga keamanan dan ketertiban warga berjumlah belasan ribu seorang diri.

Meski berupaya menjaga kondusifitas warga agar tetap tentram, tentu sejumlah konflik sosial di masyarakat akan terus mewarnai.

Konflik sosial itu, bisa aksi pencurian, perkelahian, bahkan kasus narkotika.

Dari sederet konflik yang ditemui di warganya, Indrawan mengaku paling sering mendapati atau menangani kasus peredaran narkotika.

Tercatat lebih kurang 70 pengguna narkoba ia harus hadapi selama bertugas di Kelurahan Sambung Jawa mulai 2017 hingga 2020.

Kebanyakan dari pengguna itu kata Indrawan, adalah remaja usia belasan tahun bahkan ada yang dibawah 10 tahun.

Mereka pun, lanjut Indrawan dibawa ke panti rehabilitasi Baddoka, untuk menjalani pemulihan dari pengaruh barang haram itu.

Dan atas dasar itu, ia mengaku sangat berkesan dengan pengalaman menjadi seorang Bhabinkamtibmas.

"Ketika bisa membantu menangani narkoba para pemakai, dan ternyata mereka bisa pulih, otomatis mereka akan jadi partner dalam tugas," katanya.

"Dan orangtuanya menangis terharu karena anaknya bisa kembali jalani hidup di masyarakat," sambung Indrawan mengisahkan pengalamannya menjadi Bhabinkamtibmas Sambung Jawa.

Indrawan yang merupakan putra purnawirawan TNI, mengaku punya alasan kuat mengabdikan diri di korps Bhayangkara.

Menurut pria kelahiran Manado, 3 Agustus 1975 itu, menjadi seorang polisi adalah langkah yang tepat mengabdikan diri ke bangsa dan negara.

Terlebih, ia terlahir dari keluarga  Tentara Nasional Indonesia (TNI).

"Bahwa menjadi polisi bukan saja sebagai profesi tetapi jalan mengabdi kepada bangsa dan negara. Kebetulan, bapak dulu juga purnawirawan TNI jadi jiwa patriotnya sudah terbentuk sejak kecil," kata pria asli Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, sekampung Jendral (Purn) TNI Sarwo Edi.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved