Breaking News:

Khazanah Sejarah

Khazanah Sejarah: Kehilangan Nilai Kejujuran Berarti Kehilangan Segalanya

Sekitar tahun '60-an, para orang tua di kampung sederhana dan bersahaya memberi pelajaran utama ke generasi pelanjutnya.

Editor: AS Kambie
TRIBUN TIMUR/DESI TRIANA ASWAN
Prof Dr Ahmad M Sewang MA, Cendekiawan Muslim/Ketua DPP IMMIM 

Satu-satunya komunikasi dalam mewariskan nilai-nilai budaya pada generasi muda adalah penuturan dari mulut ke mulut, baik lewat kisah atau pengajian Al Quran.

Beruntung, saya memiliki hobi suka mendengarkan kisah dari orang-orang tua yang terkadang menjadikannya sebagai pengantar tidur. Khusus kisah, mereka selalu memulainya dengan sebuah pepatah, "Sekali lancung ke ujian seumur hidup tak dipercaya."

Kisah paling menempel di benak saya yang tidak akan terlupakan sepanjang nyawa di kandung badan adalah kisah pengembala kambing yang mengelabui penduduk sekitarnya, yaitu dengan sengaja berteriak minta tolong, karena ternaknya dimakan serigala.

Semua penduduk sekitar, turun tangan menuju suara itu, lengkap dengan peralatan untuk membantunya. Tetapi apa lacur, ternyata teriakan itu hanya sekedar untuk mengelabui penduduk.

Kali kedua, teriakan itu lebih nyaring lagi, sebab memang sungguh-sungguh terjadi bahwa ternaknya benar-benar dimakan serigala ganas, namun tidak ada satu pun penduduk yang ingin turun tangan membantunya, karena teriakan itu dianggapnya omong kosong belaka.

Barulah si pengembala kena batunya. Benarlah pembuka kisah orang tua di atas, "Sekali lancung ke ujian seumur hidup orang tak percaya."

Kisah ini mungkin hanyalah qisatun khayaliyah atau kisah imajiner seperti pernah kami pelajari di PPs dalam mata kuliah Ulum Alquan. Namun kisah imajiner ini sangat terkesan di hati sampai kini.

Setelah menginjak dewasa, mulai membaca buku-buku berkualitas karangan almarhum Buya Hamka.

Diantaranya, buku "Lembaga Hikmah." Buya mengingatkan, terutama pada pemegang amanah. Jangan sama sekali pernah berbohong, sekali berbohong hanya bisa ditutupi dengan kebohongan lain.

Jika bertemu orang lain atau orang yang sama untuk menutupi kebohongan awal tadi hanyalah dengan kebohongan lagi. Demikian seterusnya, maka terjadilah kebohongan murakkab (bersusun).

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved