Pembuat Ballo di Luwu Mulai Beralih ke Gula Semut

Salah satu desa yang juga mulai memproduksi gula semut dari aren adalah Desa Tumbubara, Kecamatan Bajo Barat.

Penulis: Chalik Mawardi | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN TIMUR/CHALIK
Warga Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, yang selama ini memproduksi minuman keras jenis ballo dari nira aren beralih jadi pembuat gula semut. 

TRIBUNLUWU.COM, SULI BARAT - Sejumlah warga Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, yang selama ini memproduksi minuman keras jenis ballo dari nira aren beralih jadi pembuat gula semut.

Pendamping Kehutanan LC Perhutanan Sosial Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ismail Ishak mengatakan apabila sejumlah petani di Luwu yang sebelumnya membuat ballo kini beralih ke gula semut.

"Saat ini produksi gula semut petani semakin meningkat, permintaan pasar pun semakin banyak sehingga para pembuat gula semut di tengah pandemi Covid-19 ini tetap meraup keuntungan," kata Ismail, Selasa (29/12/2020).

Salah satu desa yang juga mulai memproduksi gula semut dari aren adalah Desa Tumbubara, Kecamatan Bajo Barat.

Melalui Kelompok Tani Hutan (KTH) Kandang Ledo, mereka sudah memproduksi gula semut lima kilogram dalam sehari.

"Semoga desa-desa lain, yang banyak tumbuh pohon aren bisa mengolah nira jadi gula semut, karena dengan mengolah nira aren menjadi gula semut bisa mengurangi peredaran ballo di Luwu," katanya.

Sebelumnya, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah mendukung sekaligus mendorong peningkatan produksi gula semut Luwu bermerek "GulaNA Professor".

Karena dianggap memiliki potensi untuk dipasarkan secara luas hingga ekspor.

Nurdin sudah melihat kemasan produk dan juga mencicipi langsung gula semut tersebut yang dinilai memiliki kualitas layak.

"Saya suka sekali gula dan desain kemasannya, pemilihan warnanya juga bagus," kata Nurdin saat menerima Ketua KTH Sepakat Desa Kaladi Darussalam, Kecamatan Suli Barat, Asse S dan rombongan.

Ia menjelaskan pemasaran juga akan dibantu, termasuk dukungan dari Dinas Perdagangan Sulsel dan menyarankan jika diproduksi lebih besar lagi maka mutu tetap dijaga.

"Kelemahan kita, susah menjaga kualitas. Makanya harus standar, apalagi kalau mau dipasarkan keluar. Kalau mau di rest area, juga bisa dipasarkan," ujarnya.

Kepala Desa Kaladi Darussalam, Sukardi menjelaskan, warga desanya telah lama memproduksi jenis gula.

Hanya memang masih dipasarkan secara terbatas. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved