Hari Pencoblosan, Ketua DKPP Bicara Dinamika Pemilu di Perth Australia

Prof Muhammad yang merupakan Mantan Ketua Bawaslu RI memulai dari cerita caleg yang berkampanye

Penulis: Muhammad Fadhly Ali | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN TIMUR/M FADLY
Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Republik Indonesia (DKPP RI) kembali menggelar Ngobrol Etika Penyelenggara Pemilu dan Media (Ngetren Media) di Hotel Four Points by Sheraton Jl Andi Djemma Makassar, Rabu (9/12/2020), atau tepat di hari pencoblosan. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Republik Indonesia (DKPP RI) kembali menggelar Ngobrol Etika Penyelenggara Pemilu dan Media (Ngetren Media) di Hotel Four Points by Sheraton Jl Andi Djemma Makassar, Rabu (9/12/2020), atau tepat di hari pencoblosan.

Hadir sebagai narasumber Ketua DKPP Prof Muhammad, Tim Pemeriksa Daerah (TPD) Sulsel Prof Ma’ruf Hafidz, Wakil Dekan III Fisip Unhas Dr Hasrullah dan Manager Online Tribun Timur Mansur Amirullah.

Dalam pemaparannya, Prof Muhammad yang merupakan Mantan Ketua Bawaslu RI memulai dari cerita caleg yang berkampanye pada Pemilu 2014 lalu.

"Ada caleg berani kampanye pada 2014, dia bilang, bolehlah menang di TPS, tapi nanti kita lihat siapa yang dilantik. Bagaimana bisa ada pemilu seperti begitu. Hakikatnya kan, bagaimana memastikan mayoritas dipilih dikawal sebagai pemenang," jelasnya.

Menurutnya, ini senada untuk lembaga survei.

"Penyelenggara Pemilu mengumumkan hasil perhitungan resmi, dan tidak diboleh mengumumkan quick count dari lembaga survei. Tapi Kalau teman wartawan dan lembaga riset sendiri itu ladangnya," jelas lelaki berlatar belakang akademisi itu.

Menurutnya itu berbeda bila disandingkan di Amerika Serikat dan Australia.

"Saya pernah ke Pearh, KPU di sana malah mengumumkan hasil quick count, misa lima menit setelah perhitungan suara selesai, dan mereka tetap mengumumkan hasil pemilu Australia beberapa hari kemudian," ujarnya.

"Tapi indah sekali di sana. Calon yang kalah berjiwa besar. Hari ini diumumkan hasil quick count, dan dinyatakan kalah. Calon tersebut mengakui kekalahan dan mengatakan saya bukan yang terbaik, ia mengajak semua pendukungnya, mengadopsi program pesaingnya," jelas Muhammad.

Selain itu, Muhammad juga menjelaskan terkait etika. Menurutnya, etika ini bukan terkait benar atau salah, melainkan patut dan tidak patut.

"Mengelola Pilkada, penyelenggara tidak boleh terlalu dekat dengan paslon. Makanya DKPP meminta Penyelenggara tak berkunjung ke warkop," katanya.

"Lah kenapa? Kopi kan bayar sendiri. Ia benar, tapi jangan pada masa pilkada. Kan di warkop itu tempat kumpulnya tim sukses. Jangan sampai panwas ketemu di warkop cerita sama timses, nah publik yang lihat terlalu dekat. Padahal kita butuhkan public trush," jelasnya. 

Tidak hanya itu, chating di group WhatsApp (WA) yang sama dengan paslon pun diharapkan tidak terjadi. Makanya Muhammad minta penyelenggara untuk keluar dari grup WA tersebut.

Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved