Aplikasi La Sapi

Cegah Manipulasi Harga Makelar, Pemkab Sinjai Ajak Masyarakat Manfaatkan Aplikasi La Sapi

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sinjai membuat aplikasi layanan penjualan dan pembelian ternak sapi. 

Penulis: Samsul Bahri | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM/SYAMSUL BAHRI
Ternak sapi di Desa Puncak Kecamatan Sinjai Selatan. Desa Puncak adalah salah satu desa penghasil sapi di Sinjai. 

TRIBUN TIMUR.COM, SINJAI UTARA - Pemerintah Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sinjai membuat aplikasi layanan penjualan dan pembelian ternak sapi. 

Pemkab Sinjai membuat aplikasi layanan itu terkait banyaknya keluhan dari masyarakat karena harga jual beli sapi yang kerap dimanipulasi oleh para makelar sapi di daerah tersebut. 

"Karena itu kami hadir di masyarakat dengan memberikan solusi terhadap persoalan sapi. Jadi peternak bisa jual langsung sapinya ke masyarakat melalui layanan La Sapi," kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner DPKH Sinjai, Mappamancu, Rabu (9/12/2020).

Selama ini, banyak masyarakat membeli sapi dari makelar dengan harga yang mahal.

Dengan adanya layanan ini antara penjual dan pembeli dapat membeli sapi dengan harga yang tidak terlalu mahal.

Mappamancu juga menjelaskan beragam pelayanan bisa dilakukan melalui La Sapi.

Mulai dari pelayanan agribisnis, kesehatan hewan, dan pelayanan produksi peternakan yang dijabarkan dengan sebutan "Lima Aksi Baper (Bantu Peternak).

"Lima Aksi Baper itu seperti bantu jual ternak, bantu beli ternak, bantu dapat pelayanan, baik Inseminasi Buatan (IB), Keswan, kartu, dan asuranasi ternak. Lalu, bantu informasi manajemen peternakan dan Keswan dan bantu layanan pengaduan ternak," tuturnya. 

Ia mencontohkan, jika peternak ingin menjual sapi, mereka cukup menyampaikan ke operator La Sapi.

Lalu operator mengirim pesan broadcast ke 15 ribu nomor kontak. Sehingga, informasi penjualan sapi bisa tersebar efektif, efisien, dan memudahkan mencari pembeli. 

Selain itu, La Sapi juga membantu pelayanan kesehatan hewan. Saat sapi milik peternak terserang penyakit, penyuluh peternakan dapat dengan mudah memberikan edukasi melalui aplikasi ini.

Peternak tidak perlu dikumpulkan di satu tempat yang membutuhkan biaya besar.

Melalui aplikasi La Sapi, DPKH Sinjai pun kini menjalankan program penyuluhan yang disebut Digital Sejahterakan Peternak Sinjai atau "Pelita Senja".

"Kami juga sudah terapkan aplikasi ini (Pelita Senja) dan siapa saja bisa mengakses, biasanya saat kami mau sasar peternak di satu kecamatan, malah peternak di kecamatan lain juga ikut, bahkan pernah lintas kabupaten, ini sangat efektif dan menghemat biaya," tambahnya.

Dijelaskan Mappamancu, biaya yang dikeluarkan dalam pesan broadcast cukup murah. Hanya Rp 45 ribu untuk mengirim pesan ke 15 ribu kontak. 

"Kalau mengumpulkan peternak tentu banyak biaya yang harus kami keluarkan, belum pasti juga mereka datang, dengan aplikasi ini kita juga bisa menghindari kerumunan," tuturnya.

Sejak dua tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Sinjai dibawah kepemimpinan Andi Seto Asapa (ASA) memang menggenjot sejumlah program unggulan termasuk pada sektor peternakan.

Potensi peternakan sapi di daerah ini cukup menjanjikan dengan populasi sapi potong yang kini mencapai 145 ribu ekor.

Dengan potensi tersebut, Sinjai menjadi daerah penyuplai sapi potong ke sejumlah daerah di Kawasan Timur Indonesia, seperti Kalimantan Timur, Gorontalo, Suawesi Barat dan Kota Makassar. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved