Breaking News:

OPINI

Keturunan Nabi

OPINI: Oleh: Dr Ilham Kadir MA. Keturunan Nabi Adam; Dosen Universitas Muhammadiyah Enrekang

Penulis: CitizenReporter | Editor: Suryana Anas
Dok Pribadi
Dr Ilham Kadir MA, Alumni Pondok Pesantren Darul Huffadh, Tuju-Tuju Bone 

Oleh: Keturunan Nabi oleh Dr Ilham Kadir MA, Keturunan Nabi Adam; Dosen Universitas Muhammadiyah Enrekang

Diskursus tentang keturunan Nabi Muhammad saat ini kian menjadi polemik, lebih khusus setelah kepulangan Imam Besar Front Pembela Islam, Habib Rizieq Shihab ke tanah air setelah menetap di Makkah selama tiga setengah tahun.

Tulisan ini bermaksud mengurai asal-usul istilah habib, dan keistimewaan para keturunan nabi dari manusia dan nabi pertama hingga nabi akhir zaman.

Salah satu ciri khas yang kerap dipakai oleh yang mengaku keturunan nabi adalah "habib".

Sejatinya kata habib bersumber dari Bahasa Arab yakni, habba-yuhibbu-hubbun, dan habib berarti 'yang dicintai', kerap disebut 'habibi' berarti 'yang saya cintai' atau 'kekasihku'.

Kemungkinan besar, awal penyebutan habib kepada keturunan nabi untuk menjadi pembeda pada keturunan selain nabi Muhammad dan sebagai tanda kecintaan kepada mereka.

Pada dasarnya panggilan habib kepada para keturunan Nabi Muhammad tidak ada dasarnya dalam agama, tidak pula ada dali baik Al-Quran maupun hadis yang memerintahkan untuk memuliakan mereka dengan menyebut habib. Karena itu, istilah habib masuk dalam perkara bid'ah non ibadah dan dihukum mubah. Tidak sunnah tapi juga tidak haram, hanya bersifat ta'dib dan ta'zhim kepada para keturunan Rasulillah.

Pendapat yang masyhur terkait dengan asal-usul istilah habib kemungkinan [belum pasti] adalah berasal dari Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir (820-924). Mereka juga biasa disebut sebagai 'kaum alawiyin' adalah merupakan keturunan dari Ali bin Abi Thalib yang melakukan migrasi dari Bashrah ke Hadramaut pada saat Dinasti Abbasiyah memegang tampuk kekuasaan. Anak-cucu Imam Al-Muhajir ini kemudian melakukan migrasi ke sejumlah negara seperti India, Afrika, hingga Nusantara.

Sejarah migrasi dan persebaran kaum Alawiyin, ke berbagai daerah ini terbagi ke dalam beberapa fase.

Sayyid Muhammad bin Ahmad Asy-Syathiri dalam bukunya, “Sirat as-Salaf min Bani Alawi al-Husainiyyin” membagi persebaran menjadi empat fase.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved