Breaking News:

Peran Guru dalam Pusaran Disrupsi, Refleksi Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke-75

EUFORIA Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke-75 yang diperingati setiap tanggal 25 November adalah dua momen yang dianggap sangat bersejarah bagi para

DOK PRIBADI
Widyaiswara BPSDM Provinsi Sulsel dan mantan Ketua PGRI Kabupaten Maros, Dr Arman Arsyad MSi 

Dr Arman Arsyad MSi

Widyaiswara BPSDM Provinsi Sulsel dan mantan Ketua PGRI Kabupaten Maros

EUFORIA Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke-75 yang diperingati setiap tanggal 25 November adalah dua momen yang dianggap sangat bersejarah bagi para guru di Tanah Air.

Guru yang di masa lalu selalu diidentikkan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa karena keberadaannya sangat dibutuhkan, namun terkadang penghargaan yang diperoleh tidak sebanding dengan pengorbanan dan keihlasaan yang mereka persembahkan, demi mencerdaskan anak bangsa.

Kehadiran guru sebelum dan setelah kemerdekaan sangat dibutuhkan baik masyarakat pribumi maupun oleh pemerintah Belanda.

Masyarakat pribumi membutuhkan pendidikan karena ingin lepas dari gurita kebodohan, sedangkan pemerintah kolonial Belanda membutuhkan pribumi yang melek huruf, guna membantu kepentingannya.

Pribumi terdidik dimanfaatkan pemerintah Belanda sebagai tenaga administrasi/opas di kantor dan perusahaan perkebunannya pada masa itu.

Gayung bersambut karena pribumi membutuhkan pendidikan, begitupun pemerintah Belanda membutuhkan pribumi terdidik untuk kepentingannya, sehingga saat itu kehadiran guru ibarat setetes air di gurun pasir.

Seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan politik kolonial dari kebijakan mengeksploitasi sumber daya alam menjadi sedikit memberdayakan masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat untuk melek huruf saat itu dikenal dengan kebijakan politik etis Belanda.

Halaman
1234
Editor: Edi Sumardi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved