Breaking News:

Kasus Pencabulan

Ayah di Mamuju Cabuli Anak Tiri Sejak Kelas 4 SD, Terungkap Gara-gara Korban Kabur dari Rumah

Ayah di Mamuju Cabuli Anak Tiri Sejak Kelas 4 SD, Terungkap Gara-gara Korban Kabur dari Rumah

Penulis: Nurhadi | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM/NURHADI
Wakasat Reskrim Polresta Mamuju Ipda Kasmuddin saat merilis kasus pencabulan anak di bawah umur di salah satu warung kopi dekat Pasar Baru Regional Mamuju, Sulbar, Rabu (18/11/2020). Ayah di Mamuju Cabuli Anak Tiri Sejak Kelas 4 SD, Terungkap Gara-gara Korban Kabur dari Rumah 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAMUJU - Ayah di Mamuju Cabuli Anak Tiri Sejak Kelas 4 SD, Terungkap Gara-gara Korban Kabur dari Rumah

Wakasat Reskrim Polresta Mamuju, Ipda Kasmuddin mengungkap modus Tantowi Jauhari (33) warga Desa Bunde, Kecamatan Sampaga yang tega mencabuli anak tirinya sejak duduk di bangkus kelas 4 SD.

Perbuatan bejat Tantowi Jauhari alias Anto baru terungkap setelah anak tirinya inisial AL duduk di bangku kelas III SMP.

"Perbuatan si bapak tiri ini mulai dilakukan sejak tahun 2006 lalu. Modusnya, korban diajak pergi beli gorengan kemudian di bawa ke rumah sawah. Disitulah pertama kali pelaku menyetubuhi korban yang masih sangat di bawah umur dengan cara dipaksa," kata Ipda Kasmuddin kepada wartawan, Rabu (18/11/2020).

Menurutnya, korban tidak menyebutkan secara detail berapa kali disetubuhi oleh pelaku, namun sudah berkali-kali sejak tahun 2006. Bahkan terakhir pada 29 Oktober 2020.

"Setiap selesai melakukan perbuatannya pelaku selalu mengancam korban akan dibunuh jika diberitahukan kepada ibunya. Pada tanggal 29 Oktober itu, korban tidur di kamar ibunya dan ibunya ke kebun belakang rumah, pelaku masuk kamar dan memaksa korban untuk melayani hasrat seksualnya," ungkapnya.

Dikatakan, setelah kejadian 29 Oktober tersebut, korban kabur dari rumah, dia ditemukan oleh warga di salah satu pos polisi di Topoyo Mamuju Tengah.

"Dia sudah merasa takut, makanya kabur dari rumahnya. Dia tinggal di suatu pos, ada yang temukan, lalu ditanya-tanya dari mana dan kenapa tidak mau pulang, ceritalah si korban ini sehingga perkara ini terungkap," pungkasnya.

Setelah diketahui keluarganya, korban dijemput lalu melakukan pelaporan ke Polsek Sampaga pada 5 November 2020. Korban bersama ibunya datang ke kantor polisi.

"Jadi seperti itu kronologinya sehingga kasus ini terungkap. Dan saat ini pelaku dalam keadaan trauma dalam pendampingan PPA," ucapnya.

Pelaku dijerat Pasal 81 ayat (1) 2 dan 3 Jo pasal 76 d, UU RI nomor 17 tahun 2016 tentang perubahan UU nomor 1 tahun 2016 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 500 miliar.

Kasmuddin mengungkapkan, pelaku tersebut diketahui adalah seorang residivis, tahun 2008 terlibat kasus curanmor.

Kemudian tahun 2014 tersangkut kasus peredaran uang palsu di Kabupaten Mamuju.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved