Breaking News:

Kapal Pengawasan Hiu 09 Intai Pengeboman Ikan di Liukang Tangayya, Tim Deklarasi Stop Bom dan Bius

Destructive fishing merupakan praktik penangkapan ikan yang merusak habitat dan ekosistem perairan.

Handover
Tim Ditjen DKP dan CDK Pangkep bersama warga di sela Sosialisasi DF di Pulau Sapuka, Liukang Tangayya, Pangkep 

TRIBUN-TIMUR.COM, PANGKEP - Tim Direktorat Jenderal Pengawasan Pengelolaan Sumberdaya Kelautan ( Ditjen PSDKP) melakukan identifikasi titik rawan destructif fishing (DF) di Perairan Liukang Tangngayya, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Destructive fishing merupakan praktik penangkapan ikan yang merusak habitat dan ekosistem perairan.

Misalnya aktivitas pembom ikan dengan menggunakan bahan peledak dan racun.

Kegiatan bersama Cabang Dinas Kelautan (CDK) Pangkep, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulsel, tersebut didukung armada Kapal Pengawasan Hiu 09 dari Pangkalan PSDKP Benoa.

Pengawasan dan identifikasi mulai dari Liukang Tangngayya Barat hingga perairan Sapuka, Tinggalungang, dan Kembang Lemari.

Selain itu, tim menggelar Sosialisasi DF di Pulau Sapuka, serta Deklarasi Stop Bom dan Bius, di Pulau Tinggalungang, Kelurahan Sapuka.

Kepala CDK Pangkep Moh Maja pada sosialisasi di Pulau Sapuka, Kelurahan Sapuka, Liukang Tangayya, Kabupaten Pangkep, Sabtu (31/10/2020).
Kepala CDK Pangkep Moh Maja pada sosialisasi di Pulau Sapuka, Kelurahan Sapuka, Liukang Tangayya, Kabupaten Pangkep, Sabtu (31/10/2020). (Handover)

Agus Setiawan, tim dari Ditjen PSDKP, dalam keterangan tertulis, Minggu (01/11/2020), mengatakan, kegiatan ini perlu dilakukan dalam memudahkan gelar patroli ke depan.

Kegiatan ini menindaklanjuti nota kesepahaman kerja sama (MoU) antara Ditjen PSDKP (Pangkalan PSDKP Bitung) dan DKP Sulsel.

"Kerja sama terkait sinergitas Pengawasan SDKP khususnya di kawasan rawan DF dan sejauh ini sulit terjangkau pengawasan provinsi," katanya.

Kepala CDK Pangkep Moh Maja mengapresiasi antusiasme Masyarakat Liukang Tangngayya khususnya di Pulau Sapuka dan Pulau Tinggalungang.

"Sungguh luar biasa, merema sangat menginginkan kawasan perairannya bersih dari DF karena sudah sangat meresahkan," ujarnya.

Aktivitas DF juga memberi dampak berkurangnya hasil tangkapan.

"Sehingga mereka semakin bergerak jauh dari tempat penangkapan ikan selama ini dan ini menambah biaya dan waktu," jelasnya.

Dia berharap aktivitas DF semakin berkurang melalui pembinaan rutin, patroli pengawasan berkala, hingga penindakan pelaku DF.

Kepala DKP Sulsel Sulkaf S Latief, berterimakasih atas kerja sama Ditjen PSDKP dan Pangkalan SDKP Bitung terkait sinergitas pengawasan di perairan Sulsel.(*)

Penulis: Muhammad Fadhly Ali
Editor: Aqsa Riyandi Pananrang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved