Breaking News:

Harga Sawit Tinggi, Ini Penjelasan Petani Luwu Utara

Menurut dia, harga TBS yang tinggi pada bulan ini tidak akan berpengaruh pada pendapatan petani.

TRIBUN TIMUR/CHALIK
Puluhan truk yang mengangkut kelapa sawit parkir di DPRD Kabupaten Luwu Utara, Selasa (22/5/2018) 

TRIBUNLUTRA.COM, MASAMBA - Sejumlah petani kelapa sawit menanggapi santai tingginya harga pembelian Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit.

Petani mengatakan, harga melambung karena ketersediaan TBS kurang dan bukan musim.

"Sekarang harga mahal karena bukan musim, coba kalau sudah musim pasti harga anjlok lagi. Ini lagu lama, akal-akalan perusahaan," kata Adnan, petani sawit di Desa Harapan, Kecamatan Mappedeceng, Selasa (15/9/2020).

Menurut dia, harga TBS yang tinggi pada bulan ini tidak akan berpengaruh pada pendapatan petani.

"Memang harga tinggi, tapi apa juga mau kita jual. Nah tidak ada buahnya. Nanti kalau musim baru harga seperti ini, itu baru mantap," paparnya.

Diketahui, pembelian TBS menyentuh harga tertinggi.

Saat ini, pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi di Luwu Utara membeli TBS petani di kisaran Rp 1.400 per kilogram (kg) bahkan lebih.

Seperti PKS PT Jas Mulia yang membeli TBS petani Rp 1.410 per kg.

Bahkan PT Kasmar Matano Persada, PTPN, PT PDGS, dan PT Surya Sawit Sejahtera berani mematok harga TBS Rp 1.425 per kg.

Dulu, harga hanya berkisar Rp 800 per kg.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Luwu Utara Rafiuddin membenarkan kenaikan harga TBS yang cukup tinggi.

Bahkan menurut dia, mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah dunia persawitan Sulsel.

"Betul harga ini adalah rekor tertinggi," sebutnya.

Ia berharap harga tinggi bisa bertahan hingga musim panen raya.

Penulis: Chalik Mawardi
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved