Breaking News:

Cerita Owner Kopi Teori Hadir Sejak 2012, Berawal dari 'Kecelakaan'

Kopi Teori telah hadir sejak 2012. Selama bertahan delapan tahun, Om Trian mampu menggaet para penikmat kopi dengan caranya sendiri.

Penulis: Nur Fajriani R | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN TIMUR/NURFAJRIANI
Sulsel Youngprenuer seri kelima hadirkan Owner Kopi Teori Om Trian, Jumat (11/9/2020). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sulsel Youngprenuer seri kelima hadirkan Owner Kopi Teori Om Trian, Jumat (11/9/2020).

Bincang-bincang yang dipandu Uji Nurdin ini digelar di Lego-lego yang terletak di Center Point Of Indonesia - Makassar.

Program ini menampilkan kisah inspiratif dari pengusaha muda sukses.

Om Trian menceritakan banyak tentang Kopi Teori.

Kini brand ini telah hadir di Lego-lego

Kopi Teori telah hadir sejak 2012. Selama bertahan delapan tahun, Om Trian mampu menggaet para penikmat kopi dengan caranya sendiri.

"Sebenarnya Kopi Teori lahir by accidently atau secara kecelakaan. Tidak ada pilihan waktu itu karena perekonomian saya sangat drop dan saya tidak tau mau ngapain. Dan saya masih punya satu setengah karung kopi. Saya sejak dulu suka kopi dan saya beli rata-rata biji hijau," katanya.

Awalnya diketahui Om Trian berbisnis biji kopi bahkan berbisnis percetakan.

"Saya kirim sama teman-teman roaster di Bandung. Setelah saya bangkrut masih ada satu setengah karung dan tersimpan di kamar saya itulah yang saya jadikan usaha," katanya.

"Nilainya satu karung itu 60 kg dan saya jual kembali ke Bandung. Tahun 2014 saya jadi pihak ketiga untuk menjembatani petani di Sulsel dengan teman roaster di Bandung," ujarnya.

Kopi Teori telah membuka banyak cabang, pertama di Jl Beruang, sempat di Pantai Losari dan pindah ke Lego-lego.

“Awalnya saya buka 2014 akhir. Saya buat roaster pertama di Jl Beruang di garasi. Di situ saya jual ruko, dan hanya menggunakan garasinya saja. Setelah kembali modal akhirnya saya beli ruko itu lagi,” tambahnya.

Setelah bisnisnya mulai berkembang, Om Trian mulai bersekolah kopi.

“Akhirnya saya sekolah kopi di Jakarta, karena cita-cita saya dari dulu itu tapi uang tidak cukup,”.

“Disitu saya berfikir, kopi bukan hanya sekedar di minum tapi banyak hal yang bisa diambil dari situ untuk orang lain.,” katanya.

Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved