Breaking News:

Tak Serius Tangani Laporan Penggelapan Dana Masjid, Warga Datangi Polres Bantaeng

Hal itu disampaikan oleh Kuasa Hukum yang mendampingi kasus tersebut, Muhammad Nur Fajri.

TRIBUN TIMUR/ACHMAD NASUTION
Unjuk Rasa yang dilakukan warga Desa Barua, Kecamatan Eremerasa, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi-selatan, di depan kantor Kepolisian Resor (Polres) Bantaeng, Kamis, (10/9/2020). 

TRIBUNBANTAENG.COM, BANTAENG - Puluhan warga mendatangi kantor Kepolisian Resor (Polres) Bantaeng untuk melakukan unjuk rasa, Kamis, (10/9/2020).

Unjuk rasa dilakukan karena pihak kepolisian diduga tidak serius menangani laporan terkait sumbangan dana Masjid Nurul Ikhlas Bungoso, Desa Barua, Kecamatan Eremerasa, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi-selatan.

Hal itu disampaikan oleh Kuasa Hukum yang mendampingi kasus tersebut, Muhammad Nur Fajri.

"Karena kami menganggap pihak Reskrim tidak mendalami secara total apalagi ini kepentingan ummat," kata advokat yang akrab disapa Fajri, kepada TribunBantaeng.com, Kamis, (10/9/2020).

Penggelapan diduga dilakukan oleh ahli waris, dari H. Baraiya yang memberikan sumbangan untuk masjid Nurul Ikhlas sebesar Rp 200 juta.

Namun, pihak dari kepolisian menganggap tidak terdapat tindak pidana dalam kasus tersebut.

"Yang dinilai dari penyidik itu adalah proses pencairannya, dan kami sepakat bahwa disitu memang tidak ada tidak pidana, tetapi yang masuk pidana adalah proses penguasaan uang itu dan itu tidak dilihat oleh pihak Reskrim," ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu warga Desa Barua, H. Baraiya memberikan sejumlah uang Rp 200 juta untuk disumbangkan ke masjid Nurul Ikhlas.

H. Baraiya yang sudah meninggal dunia telah membuat surat wasiat dalam akta notaris yang dijadikan bukti pengurus masjid bahwa sejumlah uang itu telah diserahkan untuk kepentingan masjid.

Namun, ketika uang sumbangan yang tersimpan dalam Bank akan dicairkan harus malalui ahli waris dari H. Baraiya.

"Menurut pihak Bank BRI untuk mencairkan uang tidak mengenal surat wasiat tetapi harus ahli waris," ujarnya.

Setelah ahli waris telah ditetapkan pengadilan Agama, uang tersebut dicairkan secara diam-diam tanpa diketahui pengurus masjid.

Sehingga, ahli waris dinilai akan menguasai seluruh uang yang ada dalam Bank padahal sebagian adalah milik masjid.

"Pengurus masjid mencari ahli waris, setelah ditemukan, si ahli waris yang ditetapkan pengdilan agama mencairkan secara diam-diam nanti jauh hari baru diberitahukan.

Jadi dari situlah kami menilai bahwa ahli waris ingin menguasai semua uang tersebut. Uang dalam rekening itu ada 440 juta. Kami tidak permasalahkan seluruh uang itu, yang kami permasalahka hanya uang 200 juta untuk masjid," jelasnya.

Penulis: Achmad Nasution
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved