Breaking News:

Tribun Maros

Sudah Dua Pekan Pesantren Nahdlatul Ulum Maros Belajar Tatap Muka, Orangtua: Tempat Isolasi Terbaik

Proses pendidikan tatap muka di lingkup Pesantren Nahdlatul Ulum Maros milik AGH Sanusi Baco mulai dilakukan sejak dua pekan lalu.

Sudah Dua Pekan Pesantren Nahdlatul Ulum Maros Belajar Tatap Muka, Orangtua: Tempat Isolasi Terbaik
TRIBUN-TIMUR.COM/AM IKHSAN
Suasana Pesantren Nahdlatul Ulum Maros, Kamis (10/9/2020).

TRIBUNMAROS.COM, TURIKALE - Proses pendidikan tatap muka di lingkup Pesantren Nahdlatul Ulum Maros milik AGH Sanusi Baco mulai dilakukan sejak dua pekan lalu.

Sebelum pelaksanaan tatap muka ini dilakukan, seluruh santri yang datang dari berbagai daerah harus menjalani karantina mandiri sebelum pembelajaran di mulai.

Kepala Kampus Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum, Syamsuddin, kamis (10/9/2020) menjelaskan pada awalnya pihak pesantren mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan pembelajaran dari rumah.

Hanya saja banyak orang tua yang mengeluh terkait masalah jaringan seluler dan mereka terkendala quota.

"Kita memang telah membuka pembelajaran tatap muka setelah sebelumnya kami melakukan rapat dengan orang tua murid. Dari hasil rapat itu, kebanyakan orang tua memilih anak-anak mereka untuk kembali mondok," tuturnya.

"Makanya kami membuka pembelajaran tatap muka. Utamanya bagi mereka yang berasal dari luar Sulsel, seperti Papua, Kalimantan dan beberapa daerah lainnya," lanjutnya.

Mantan kepala Kantor Kemenag kabupaten Maros ini menjelaskan, pondok pesantren merupakan kawasan karantina yang dianggap aman. Karena santri tidak keluar dari lingkungan pesantren.

Dia juga mengatakan, untuk menghindari penyebaran virus corona di area pesantren, orangtua murid yang ingin membesuk tidak diperkenankan masuk ke dalam pesantren.

"Orang tua yang ingin membesuk anaknya, tidak dibolehkan masuk ke dalam pesantren. Mereka hanya dibolehkan sampai di post satpam saja. Demikan juga dengan anak santri. Kami tidak membolehkan mereka untuk pulang ke rumah. Karena kalau itu dilakukan, mereka terpaksa harus di karantina selama 14 hari sebelum berbaur dengan santri lain," terangnya.

Sementara itu, orangtua santri Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama, Muhammad Ridwan menuturkan pada dasarnya dia sangat setuju jika proses pembelajaran santri dilakukan di pesantren.

Karena dia menganggap lingkungan pesantren merupakan lingkungan paling aman dan tempat isolasi terbaik.

Kepala seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Kemenag Kabupaten Maros Ahmad Ihyaddin menuturkan, memang ada beberapa pesantren yang telah melakukan tatap muka.

"Dan itu dibolehkan oleh kementrian agama. Selama pesantren tersebut menjalankan dan menerapkan protokol kesehatan," tuturnya.(*)

Laporan Wartawan Tribunmaros.com, AM Ikhsan

Penulis: Andi Muhammad Ikhsan WR
Editor: Hasriyani Latif
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved