Breaking News:

Aktivis Pertanyakan Kredibilitas Polres Wajo Tangani Dugaan Korupsi di Desa Cinnongtabi

Presiden Aliansi Mahasiswa Indonesia Wajo Bersatu (AMIWB), Heriyanto Ardi mempertanyakan komitmen

TRIBUN-TIMUR.COM/HARDIANSYAH
Aktivis di Kabupaten Wajo, Heriyanto Ardi 

TRIBUNWAJO.COM, SENGKANG - Kinerja aparat kepolisian dari Polres Wajo kembali dipertanyakan.

Salah satu kasus yang ditangani Polres Wajo, yakni adanya dugaan korupsi pada proyek jalan tani di Desa Cinnongtabi, Kecamatan Majauleng tak jua mendapatkan kejelasan.

Presiden Aliansi Mahasiswa Indonesia Wajo Bersatu (AMIWB), Heriyanto Ardi mempertanyakan komitmen penegak hukum untuk memerangi korupsi.

Terlebih lagi, laporan adanya mark up pada proyek perintisan jalan tani itu sudah lebih 5 bulan tanpa kejelasan di meja penyidik Unit Tipidkor Satreskrim Polres Wajo. Bahkan, dengan tegas aktivis yang vokal itu menuding penyidik telah "masuk angin".

"Kalau ada kasus-kasus lama, namun belum ada kepastian hukum, ini patut dipertanyakan kredibilitas penyidiknya, apakah penyidiknya ini sudah "masuk angin",” katanya, Kamis (10/9/2020).

Sebagai putra daerah, lelaki yang kerap disapa Ardi itu berjanji akan terus mengawal segala sejumlah kasus yang mandek di meja penyidik Polres Wajo.

"Setiap kasus harus ada kepastian hukumnya, kalau Polres Wajo tidak mampu menuntaskan kasus tersebut, kami akan meneruskannya ke Polda Sulsel," katanya.

Sementara, Kasat Reskrim Polres Wajo, AKP Muhammad Warpa yang berusaha dikonfirmasi perihal perkembangan kasus tersebut belum memberikan respon.

Sebagaimana diketahui, dugaan mark up para perintisan jalan tani Bulo-buloe di Desa Cinnongtabi itu tercium ketika adanya laporan masyarakat sekitar yang mempertanyakan anggaran besar yang digelontorkan.

Berdasar APBDes 2019 Cinnongtabi, tiga item pekerjaan pengerjaan jalan tani yang dimaksud yakni pertama terkait pengerasan jalan tani Bulu Buloe. Untuk item itu nilai anggarannya lebih dari Rp 559 juta dengan volume 1.775 x 3 meter.

Item kedua yakni perintisan jalan tani Bulu Buloe dengan anggaran lebih dari Rp 392 juta untuk volume 3.510 x 3 meter. Terakhir yakni masih perintisan jalan bervolume 600 x 3,5 meter dengan anggaran Rp 89 juta lebih.

Dugaan indikasi korupsi iti ditangani saat AKP Bagas Sancoyoning Aji menjabat sebagai Kasat Reskrim dan AKBP Dedi Dewantho menjabat Kapolres. Kini, dua nama perwira tersebut tidak lagi berdinas di Polres Wajo. Kasus-kasus lama yang mandek itu, menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pejabat baru Polres Wajo.

Penulis: Hardiansyah Abdi Gunawan
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved