2 Tahun Prof Andalan
2 Tahun Prof Andalan: Tahun Ini Terkoneksi, Tahun Depan Mulai Menata
Dua tahun Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah dan Wakil Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman memimpin.
Penulis: Saldy Irawan | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Dua tahun Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah dan Wakil Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman memimpin.
Dalam dua tahun ini, sejumlah program kerja pasangan berjargon Prof Andalan ini diakui telah diselesaikan.
Terkait dua tahun kepemimpinan Prof Andalan, Pimpinan Umum Tribun Timur, Andi Suruji mendapat bocoran mengenai apa yang telah ia kerjakan dalam dialog spesial dua tahun Prof Andalan.
Berikut petikan wawancaranya:
Kami mendengar bapak memiliki program Sulsel terkoneksi. Apa yang dimaksud dengan Sulsel terkoneksi, apakah pembangunan infrastruktur yang digenjot atau seperti apa pak?
Jawab: Ya terima kasih para tribuners. Alhamdulillah saya bersama Wagub Sulsel bapak Andi Sudirman dua tahun memimpin Sulawesi Selatan (hari ini).
Banyak suka duka selama dua tahun kami memimpin Sulsel. Saya merasa dua tahun ini, waktu yang sangat singkat.
Tetapi kami bersyukur, karena telah membangun sinergi bersama bapak bupati dan walikota, sehingga beberapa program prioritas kita termasuk Sulsel terkoneksi berjalan dengan baik.
Pertama, yang ingin saya sampaikan, menyelesaikan persoalan di daerah khususnya daerah terisolir.
Kita ketahui, Sulsel banyak potensi yang dimiliki, namun terkandala dengan akses. Sehingga kami mendorong program infrastruktur, terutama di Luwu Utara, bagaimana cara agar bisa menjangkau kecamatan Seko.
Diketahui bahwa Seko selama ini harus ditempuh dengan ojek dua hari tiga malam perjalanan. Bahkan dengan ongkos ojek yang begitu mahal.
Alhamdulillah sekarang sudah terkoneksi. Mudah-mudahan tahun ini tuntas. Masyarakat saat ini sudah bisa pulang pergi.
Kedua kami juga membangun jalan rante Pao-Bua. Ada juga kecamatan Bastem ini juga sangat sulit dilalui karena Infrastruktur sangat minim.
Padahal di Bastem itu ada tokoh tokoh besar yang memiliki jasa untuk negeri ini, yakni Kasal Kasenda, saat ini Alhamdulillah sudah terkoneksi juga.
Dengan hadirnya jalan ini, juga menjadi alternatif pasca terjadinya longsor di jalur utama Toraja.
Sementara program lainnya, kami saling mengisi.
Pak Wagub juga melakukan pemantauan akses Bone-Pangkep ini juga sudah terkoneksi.
Ketiga kita memiliki banyak bandara ada Selayar, Bone, Bua, Pontiku, Lutim Lutra,
Cuman memang yang ingin kami sampaikan, khusus bandara Pontiku (Toraja) tidak bisa kami perpanjang run way.
Karena itu kita lakukan kolaborasi dengan Kementerian Perhubungan, untuk membangun bandara baru (Bonto Kuni).
Dan diawal Desember 2018 kita bangun, Alhamdulillah bandara ini sudah di uji coba kemarin. Rute Makassar Toraja. Akses ini bisa perpendek waktu dari 9 jam menjadi 30 menit.
Ini kenapa kita lakukan? karena Toraja tentu tidak hanya menjadi aset Indonesia tapi juga dunia. Dengan bandara ini, kejayaan pariwisata Toraja bisa kembali.
Kita juga tidak lupakan pulau-pulau. Kita memiliki 330 pulau tahun berikutnya kita alokasikan anggaran untuk pemberdayaan masyarakat pulau, termasuk dermaga, air bersih, listrik, Sekolah dan bidang kesehatan.
Saya lanjut ke Pak Wagub? Sebagai pengusaha, potensi apa yang ada di Seko maupun Bastem, selain memperpendek jarak, menghemat jarak tempuh tentu ada potensi besar, apa disana pak?.
Jawab: Jadi memang kita pada intinya adalah ada Sulsel terkoneksi.
Pemerintahan kami ini adalah kolaborasi pusat, Pemprov dan dan kabupaten agar betul betul terlihat.
Saya bisa contohkan misal akses ke seko. Kita memberikan dana bantuan untuk laksanakan ruas kabupaten, kita juga turun ke ruas provinsi, dan kolaborasi pusat.
Demikian juga Bua- Rantepao disitu juga ada kolaborasi , ini juga terjadi di Parigi - bungoro Pengkep.
Pada intinya, misal dulu di Parigi bungoro wilayah yang tidak bisa di akses roda empat. Sekarang dengan adanya akses jalan kesana, warga memanfaatkan kebun Pinus disana.
Itu 30 ribu pengunjung dalam sehari , dan itu dilakukan pemerintah desa. Alhamdulillah ekonomi masyarakat itu mengalir ke desa.
Kemudian juga, kita adakan bandara ini, kita membuka akses bagaimana pusat run way Bonto kuni. Kedepannya kita harap ada pelebaran sehingga Boeing bisa mendarat.
Misi kami pariwisata dari Bali ke Toraja, atau Jakarta- Toraja, ini juga bisa terkoneksi.
Terus kalau di Seko, potensi apa yang ada di sana ekonomi atau apa?
Jawab: Jadi sy kita kita lihat, awal kita ke seko, kita melihat kawasan Savana.
Ada 20 ribu hektare, disana bisa dijadikan pengembangan rens.
Melihat Seko ini salah satu daerah lumbung daging. Karen ini dingin, sayur mayur juga.
Pariwisata juga, karena disana potensi wisatanya.
Disana juga sudah ada bandara, kita harap Seko bisa kita tatap dengan baik.
Kita berharap Seko menjadi icon. Kalau saya disana, saya merasa di Tasmania di Australia.
Tinggal kita bagaimana kita membenahi infrastruktur disitu, sehingga betul betul menjadi kota wisata dan sekaligus menjadi daerah peternakan.
Di seko sebenarnya sudah banyak yang ingin berinvestasi, tapi kami juga mau mereka bisa memberdayakan masyarakat lokal. Jadi bukan saja bagaimana menggiring investasi masuk, tetapi usaha rakyat yang harus kita utamakan. Sehingga apa yang harus kita lakukan kedeoan adalah bangun infrastruktur.
Jujur saja, di seko sekarang belum ada aspal sejengkal pun. Mudah-mudahan tahun ini atau depan kita tata dengan baik.
Tahun ini terkoneksi, tahun depan kita menata. Makanya saya minta ke Bupati agar tidak mengeluarkan izin-izin.(*)
Laporan Wartawan Tribun Timur, Saldy