Teliti Gender di Kampung Nelayan, Dosen Sosiologi UNM Temukan Fenomena Menarik

Penelitian ini memilih dua puluh kepala keluarga yang disortir berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.

Penulis: Alfian | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN TIMUR/ALFIAN
Penelitian ini memilih dua puluh kepala keluarga yang disortir berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Selain aktif menggelar webinar dan menggodok klinik sosiologi, Dosen sosiologi Universitas Negeri Makassar (UNM) turun ke lapangan melakukan penelitian.

Adapun lokasi yang dijadikan tempat penelitian yakni kelurahan untia kecamatan biringkanayya kota Makassar, Sabtu (29/8/2020).

“Tim ini untuk menelusuri jejak historis dan sistem pembagian kerja masyarakat kampung nelayan untia,” ucap Idham Irwansyah selaku Ketua Tim peneliti dan Ketua Prodi Sosiologi UNM via rilis, Minggu (30/8/2020).

Menariknya penelitian ini dilakukan secara kolaboratif antara dosen dengan mahasiswa.

Tim kami sudah bagi menjadi tiga kelompok yang masing-masing melakukan wawancara pada informan yang sudah ditentukan.

Penelitian ini memilih dua puluh kepala keluarga yang disortir berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.

Sebelumnya tim sudah melakukan beberapa kali observasi ke lapangan.

“Selain itu tim juga sudah melakukan penyamaan persepsi dalam merancang daftar pertanyaan agar memperoleh informasi mendalam terhadap problem gender bagi masyarakat di kampung nelayan kelurahan untia,” sambung Idham.

Ia juga berterima kasih dengan LP2M UNM yang telah memfasilitasi penelitian ini sehingga bisa berjalan dengan lancar sesuai ekspektasi.

Sementara itu Lurah Untia, Alwan Januar, juga mengaku terbantu dengan hadirnya peneliti dari Sosiologi UNM.

“Kami sangat menyambut baik agenda ini dan sebelumnya saya sudah berbincang banyak dengan tim peneliti khususnya soal data kependudukan kami dan problem kemisikinan di kampung nelayan,” terangnya.

Lebih lanjut salah satu tim peneliti, Sopia Tamrin S Pd M Pd mengatakan dari hasil penelitian awal ditemukan beberapa hal yang menarik.

Hanya saja menurutnya fenomena tersebut perlu dianalisis lebih hati-hati dan mendalam.

“Beberapa hal yang kami maksud misalnya kemampuan bertahan dalam kondisi kemiskinan yang sangat rentan. Keluarga generasi pertama semakin tidak produktif sehingga mereka bergantung pada anaknya yang laki-laki. Nah dari sini akan menimbulakn masalah baru yakni karena harus memenuhi kebutuhan sehari-hari maka anak mereka kebanyakan putus sekolah, atau tidak disekolahkan,” terangnya.

Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved